<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986</id><updated>2012-01-02T19:24:55.146-08:00</updated><title type='text'>KolamAzolla</title><subtitle type='html'>alternatif sumber bahan pangan pakan dan pupuk dengan protein dan nitrogen yang murah untuk kesejahteraan petani</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-5878446008732093973</id><published>2011-01-28T14:36:00.000-08:00</published><updated>2011-01-28T14:43:14.230-08:00</updated><title type='text'>Azolla si Pupuk Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Azolla si Pupuk Hidup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;Oleh : Ratna M. Noer&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUNF5iasEtI/AAAAAAAACN0/MmK2LhReGTY/s400/Azolla-di-sawah-Krayan-seha.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567370419153670866" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak  15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti  karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUNF4xm7mlI/AAAAAAAACNU/sdJiQkzGbIk/s400/Azolla-basah-dan-kering.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567370406051682898" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak  70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan  terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari  0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk  kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUNF5Dm_tjI/AAAAAAAACNc/kMcTCf2bhBk/s400/Azolla-berbentuk-kering-unt.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567370410883790386" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?&lt;br /&gt;Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.  Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari  dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani di Kyushu, Jepang  T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan  dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina  dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah  azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap  3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual  (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi).  Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di  Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China).&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 345px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUNF5dSuf5I/AAAAAAAACNk/hWCmMS9ULrU/s400/Azolla-berkembang-di-kolam-.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567370417778098066" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama.  Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUNF5UDYNeI/AAAAAAAACNs/gjR3fgeLB5Q/s400/Azolla-di-Unmuh-Malang.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567370415297803746" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/01/26/azolla-si-pupuk-hidup/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-5878446008732093973?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/5878446008732093973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=5878446008732093973' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/5878446008732093973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/5878446008732093973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2011/01/azolla-si-pupuk-hidup.html' title='Azolla si Pupuk Hidup'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUNF5iasEtI/AAAAAAAACN0/MmK2LhReGTY/s72-c/Azolla-di-sawah-Krayan-seha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-1894838303909845016</id><published>2010-06-20T05:31:00.000-07:00</published><updated>2010-06-20T05:40:06.176-07:00</updated><title type='text'>Video tentang Azolla</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Beberapa alamat URL Video tentang Azolla di Youtube :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1.  Cultivation of azolla, a biofertiliser : A Method demonstration  : http://www.youtube.com/watch?v=izuDRRPdp4c&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Azolla : http://www.youtube.com/watch?v=kJyIeksKaEU&amp;amp;feature=related&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Azolla : http://www.youtube.com/watch?v=eA-mjXsPBsU&amp;amp;feature=related&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Improved azolla in Saraswathinagara : http://www.youtube.com/watch?v=DtaGFlJdS2s&amp;amp;feature=related&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. Azolla microphylla from Aren Foundation : http://www.youtube.com/watch?v=4b-4qO3Ufsg&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-1894838303909845016?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/1894838303909845016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=1894838303909845016' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/1894838303909845016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/1894838303909845016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2010/06/video-tentang-azolla.html' title='Video tentang Azolla'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-7196314317996170712</id><published>2009-10-06T20:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T20:14:51.783-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Penelitian Azolla di Faperta UGM Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://soil.faperta.ugm.ac.id/jitl/7.1%2068-73%20Sudadi.%20Aspek%20Mikrobiologis.pdf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Linus Simanjuntak tentang Azolla :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://books.google.com/books?id=RFmamJMN2BMC&amp;pg=PA17&amp;lpg=PA17&amp;dq=azolla+microphylla+vietnam&amp;source=bl&amp;ots=lZvmqNvaeG&amp;sig=7EEvOftxHrqXgMkhTvt-R1z5KEk&amp;hl=id&amp;ei=bADMSvH6KaiW6wOYuvCJAw&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=8&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-7196314317996170712?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/7196314317996170712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=7196314317996170712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7196314317996170712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7196314317996170712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/10/penelitian-azolla-di-faperta-ugm.html' title=''/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-6513069690918376823</id><published>2009-10-06T19:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T19:59:19.295-07:00</updated><title type='text'>BEBERAPA PENELITIAN AZOLLA</title><content type='html'>Di BATAN Indonesia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.batan.go.id/patir/_pert/_gambar/azola_padi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 344px;" src="http://www.batan.go.id/patir/_pert/_gambar/azola_padi.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Azolla (Anabaena Azolae) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan Timur, selatan dan Tenggara asia termasuk Indonesia di mana banyak diusahakan padi sawah, salah satu masalah yang dihadapi adalah kesuburan lahan yang berkelanjutan. Hal ini sangat penting karena saat sekarang yang dipacu adalh produksi yang semakin tinggi dari satu jenis tanaman yaitu padi sawah, dengan target kenaikan produksi untuk setiap tahun. Justru pada lahan sawah di kawasan tersebut, bahan organik tanah dan tingkat nitrogen acapkali terbatas. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan sumber nitrogen alternatif  sebagai suplemen pupuk kimia.  Sumber nitrogen alternatif ini adalah pupuk hijau. Salah satu sumber N altternatif yang cocok untuk padi sawh adalah Azolla. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla adalah paku air mini ukuran 3-4 cm yang bersimbiosis dengan Cyanobacteria  pemfiksasi N2. Simbiosis ini menyebabkan azolla mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina dan Vietnam sebagai sumber N bagi padi sawah. Azolla tumbuh secara alami di Asia, Amerika, dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla mempunyai beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azoll rubra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan azolla sebagai sumber penyumbang N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat yang diseponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) menggunakan 15N menunjuk-kan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70 – 90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertum-buhan Azolla adalah 0,355 – 0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan  diketahui bahwa dengan menginoku-lasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla tersebut ditumbuhkan. Dalam keadaan  ini dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa Azolla tumbuh kembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Sumber N dapat mengganti pupuk urea sampai 100 kg&lt;br /&gt;Pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik&lt;br /&gt;Menekan pertumbuhan gulma&lt;br /&gt;Tanaman hias&lt;br /&gt;Kontrol terhadap perkembangan nyamuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian di Batan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Azolla untuk menghemat penggunaan pupuk buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi  : Pusakanegara (Pantura)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan---------------------------------Produksi padi sawah (ton ha-1)&lt;br /&gt;1. Lapisan Azolla + 50 kg urea----------- 5&lt;br /&gt;2. Lapisan Azolla + 100 kg urea---------- 6&lt;br /&gt;3. Lapisan Azolla + 150 kg urea---------- 6,5&lt;br /&gt;4. Tanpa lapisan Azolla + 150 kg urea---- 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: Optimal pada perlakuan No.2, menghemat 50 kg urea per ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara perbanyakan Azolla :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah stok Azolla dekat rumah dengan bak plastik  atau di kolam yang tidak ada ikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P ( 1 sendok makan SP-36 per l air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapang petak sawah dibatasi dengan bambu seluas 1m2 seperti ditunjukkan pada gambar 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petak I    ---   5 hari&lt;br /&gt;petak II   ---  10 hari&lt;br /&gt;petak III  ---  15 hari &lt;br /&gt;petak IV   ---  20 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengaplikasikasikan Azolla 200 g/m2 :&lt;br /&gt;I. Sampai dengan hari ke-5, Azolla akan berkembang, sehingga permukaan lahan tertutup penuh (batas garis merah)&lt;br /&gt;Hari ke-10, menjadi 2 kali lipat (batas garis biru)&lt;br /&gt;Hari ke-15, menjadi 4 kali lipat (batas garis coklat)&lt;br /&gt;Hari ke-20, menjadi 8 kali lipat , dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Menggunakan Azolla :&lt;br /&gt;- Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit&lt;br /&gt;- Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam&lt;br /&gt;- Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat :&lt;br /&gt;- mengambil N yang hanyut dan menguap&lt;br /&gt;- menahan pertumbuhan gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan unsur hara dalam Azolla &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-----Jumlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N---------1.96-5.30 (%)&lt;br /&gt;P---------0.16-1.59 (%)&lt;br /&gt;K---------0.31-5.97 (%)&lt;br /&gt;Ca--------0.45-1.70 (%)&lt;br /&gt;Mg--------0.22-0.66 (%)&lt;br /&gt;S---------0.22-0.73 (%)&lt;br /&gt;Si--------0.16-3.35 (%)&lt;br /&gt;Na--------0.16-1.31 (%)&lt;br /&gt;Cl--------0.62-0.90 (%)&lt;br /&gt;Al--------0.04-0.59 (%)&lt;br /&gt;Fe--------0.04-0.59 (%)&lt;br /&gt;Mn--------66 - 2944 (ppm)&lt;br /&gt;Co--------    0.264 (ppm)&lt;br /&gt;Zn---------26 - 989 (ppm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.batan.go.id/patir/_pert/pemupukan/pemupukan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-6513069690918376823?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/6513069690918376823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=6513069690918376823' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/6513069690918376823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/6513069690918376823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/10/beberapa-penelitian-azolla.html' title='BEBERAPA PENELITIAN AZOLLA'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-7925082522944340123</id><published>2009-04-20T16:26:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T16:33:01.774-07:00</updated><title type='text'>Azolla di India</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Azolla di India&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Fa4MWpRI/AAAAAAAABKk/ax6azKpIlrs/s1600-h/Azolla-disosialisasikan-di-.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 304px; height: 228px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Fa4MWpRI/AAAAAAAABKk/ax6azKpIlrs/s320/Azolla-disosialisasikan-di-.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326919893568103698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Farj8pOI/AAAAAAAABKc/Y5baJjFAHlw/s1600-h/Dasar-kolam-azolla-diberika.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Farj8pOI/AAAAAAAABKc/Y5baJjFAHlw/s320/Dasar-kolam-azolla-diberika.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326919890177402082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Fahmo1kI/AAAAAAAABKU/ymfmc-CTmZI/s1600-h/Azolla-berkembang-di-kolam-.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 198px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Fahmo1kI/AAAAAAAABKU/ymfmc-CTmZI/s320/Azolla-berkembang-di-kolam-.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326919887504332354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0FaabaI9I/AAAAAAAABKM/CAZWKNg2VR0/s1600-h/Azolla-di-kolam-terpal.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 237px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0FaabaI9I/AAAAAAAABKM/CAZWKNg2VR0/s320/Azolla-di-kolam-terpal.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326919885578183634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0FaVGDiBI/AAAAAAAABKE/9Jx93zBG3Co/s1600-h/Azolla-di-kolam-plastik-di-.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0FaVGDiBI/AAAAAAAABKE/9Jx93zBG3Co/s320/Azolla-di-kolam-plastik-di-.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326919884146444306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Azolla di India&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-7925082522944340123?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/7925082522944340123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=7925082522944340123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7925082522944340123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7925082522944340123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/04/azolla-di-india.html' title='Azolla di India'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/Se0Fa4MWpRI/AAAAAAAABKk/ax6azKpIlrs/s72-c/Azolla-disosialisasikan-di-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-8790047070002824890</id><published>2009-01-02T16:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T16:51:07.103-08:00</updated><title type='text'>Azolla potensial untuk aneka pakan ternak dan ikan</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Azolla potensial untuk aneka pakan ternak dan ikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_KQ0sW8ZG8_I/RtZUG2VxALI/AAAAAAAAAW0/lMaLjvjdGEk/s400/DSC00255.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://bp0.blogger.com/_KQ0sW8ZG8_I/RtZUG2VxALI/AAAAAAAAAW0/lMaLjvjdGEk/s400/DSC00255.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.dataiklanbaris.com/training/bali-24juli-20083.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 188px;" src="http://www.dataiklanbaris.com/training/bali-24juli-20083.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.dataiklanbaris.com/training/bali-24juli-20084.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 188px;" src="http://www.dataiklanbaris.com/training/bali-24juli-20084.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://users.cjb.net/indobel/ayam2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 169px;" src="http://users.cjb.net/indobel/ayam2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HSjVoPw2cHE/SJn56nO4QaI/AAAAAAAAAEY/VUpB4erfQoA/s200/pelet_siap_digunakan.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HSjVoPw2cHE/SJn56nO4QaI/AAAAAAAAAEY/VUpB4erfQoA/s200/pelet_siap_digunakan.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_zAWUlOtUcwA/SFCmcvGURMI/AAAAAAAAACI/hWaF3s8Jzx8/s320/pellet.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 291px; height: 320px;" src="http://bp0.blogger.com/_zAWUlOtUcwA/SFCmcvGURMI/AAAAAAAAACI/hWaF3s8Jzx8/s320/pellet.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://aquat1.ifas.ufl.edu/guide/mecharvester1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 360px; height: 543px;" src="http://aquat1.ifas.ufl.edu/guide/mecharvester1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://aquat1.ifas.ufl.edu/guide/mecroto2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 713px; height: 474px;" src="http://aquat1.ifas.ufl.edu/guide/mecroto2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443039.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 397px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443039.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443038.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 598px; height: 395px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443038.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-8790047070002824890?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/8790047070002824890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=8790047070002824890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/8790047070002824890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/8790047070002824890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/azolla-potensial-untuk-aneka-pakan.html' title='Azolla potensial untuk aneka pakan ternak dan ikan'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_KQ0sW8ZG8_I/RtZUG2VxALI/AAAAAAAAAW0/lMaLjvjdGEk/s72-c/DSC00255.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-7858411937588535605</id><published>2009-01-02T16:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T16:19:46.709-08:00</updated><title type='text'>Membuat Pakan Pelet dari Azolla</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Membuat Pakan Pelet dari Azolla&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443049.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 394px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443049.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443048.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 399px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443048.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443047.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 396px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443047.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443043.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 397px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443043.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443042.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 398px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443042.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443044.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 597px; height: 393px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443044.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443045.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 598px; height: 393px;" src="http://www.fao.org/docrep/003/V4430E/V443045.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-7858411937588535605?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/7858411937588535605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=7858411937588535605' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7858411937588535605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7858411937588535605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/membuat-pakan-pelet-dari-azolla.html' title='Membuat Pakan Pelet dari Azolla'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-4501529556691046689</id><published>2009-01-02T15:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T16:03:32.024-08:00</updated><title type='text'>Azolla: a sustainable feed for livestock</title><content type='html'>Dari :  LEISA Magazine • 21.3 • September 2005&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Azolla: a sustainable feed for livestock&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;by P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha and S. Rajamony&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The demand for milk and meat in India is creating new potential in the profitability of animal husbandry as an occupation. Yet, at the same time, there is a substantial decline in fodder availability. The area under forest and grasslands is decreasing as is the amount of various crop residues available for feed, largely due to the introduction of high yielding dwarf varieties. The shortage of fodder is therefore compensated with commercial feed, resulting in increased costs in meat and milk production. Moreover, as commercial feed is mixed with urea and other artificial milk boosters, it has a negative effect on the quality of milk and the health of the livestock. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The search for alternatives to concentrates led us to a wonderful plant azolla, which holds the promise of providing a sustainable feed for livestock. Azolla is a floating fern and belongs to the family of Azollaceae. Azolla hosts a symbiotic blue green algae, Anabaena azollae, which is responsible for the fixation and assimilation of atmospheric nitrogen. Azolla, in turn, provides the carbon source and favourable environment for the growth and development of the algae. It is this unique symbiotic relationship that makes azolla, a wonderful plant with high protein content. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nutrient content and its impact on growth&lt;br /&gt;Azolla is very rich in proteins, essential amino acids, vitamins (vitamin A, vitamin B12 and Beta- Carotene), growth promoter intermediaries and minerals like calcium, phosphorous, potassium, ferrous, copper, magnesium etc. On a dry weight basis, it contains 25 - 35 percent protein, 10 - 15 percent minerals and 7 - 10 percent of amino acids, bio-active substances and bio-polymers. The carbohydrate and fat content of azolla is very low. Its nutrient composition makes it a highly efficient and effective feed for livestock (see Table 1). Livestock easily digest it, owing to its high protein and low lignin content, and they quickly grow accustomed to it. Moreover it is easy and economic to grow. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 296px; height: 180px;" src="http://www.leisa.info/FritZ/source//getblob.php?o_id=76755&amp;amp;a_id=211&amp;amp;a_seq=1&amp;amp;b_seq=3" border="0" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;The Natural Resources Development Project (NARDEP), Vivekananda Kendra, carried out trials in Tamil Nadu and Kerala using azolla as a feed substitute. The trials on dairy animals showed an overall increase of milk yield of about 15 percent when 1.5 - 2 kg of azolla per day was combined with regular feed. The increase in the quantity of the milk produced was higher than could be expected based on the nutrient content of azolla alone. Hence, it is assumed that it is not only the nutrients, but also other components, like carotinoids, bio-polymers, probiotics etc., that contribute to the overall increase in the production of milk. Feeding azolla to poultry improves the weight of broiler chickens and increases the egg production of layers. Azolla can also be fed to sheep, goats, pigs and rabbits. In China, cultivation of azolla along with paddy and fish is said to have increased the rice production by 20 percent and fish production by 30 percent. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Azolla production&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 227px;" src="http://www.leisa.info/FritZ/source//getblob.php?o_id=76755&amp;amp;a_id=211&amp;amp;a_seq=1&amp;amp;b_seq=2" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Close-up view of an azolla plant. The size of the plants are 1 - 3 cm.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;NARDEP has been working on azolla for the last three to four years, studying its potential as a feed  and exploring cost effective methods for the mass multiplication of azolla in farmers’ homesteads.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;.In  our method, a water body is made, preferably under the shade of a tree, with the help of a silpauline sheet. Silpauline is a polythene tarpaulin which is resistant to the ultra violet radiation in sunlight. A pit of 2 x 2 x 0.2 m is dug as a first step. All corners of the pit should be at the same level so that a uniform water level can be maintained. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;The pit is covered with plastic gunnies to prevent the roots of the nearby trees piercing the silpauline sheet, which is spread over the plastic gunnies. About 10 - 15 kg of sieved fertile soil is uniformly spread over the silpauline sheet. Slurry made of 2 kg cow dung and 30 g of Super Phosphate mixed in 10 litres of water, is poured onto the sheet. More water is poured on to raise the water level to about 10 cm. About 0.5 - 1 kg of fresh and pure culture of azolla is placed in the water. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;This will grow rapidly and fill the pit within 10 - 15 days. From then on, 500 - 600 g of azolla can be harvested daily. A mixture of 20 g of Super Phosphate and about 1 kg of cow dung should be added once every 5 days in order to maintain rapid multiplication of the azolla and to maintain the daily yield of 500 g. A micronutrient mix containing magnesium, iron, copper, sulphur etc., can also be added at weekly intervals to enhance the mineral content of azolla. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;NARDEP method of azolla production &lt;br /&gt;&lt;p&gt;1. It is important to keep azolla at the rapid multiplication growth phase with the minimum doubling time. Therefore biomass (around 200 g per square meter) should be removed every day or on alternate days to avoid overcrowding &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;2. Periodic application of cow-dung slurry, super phosphate and other macro and micronutrients except nitrogen, will keep the fern multiplying rapidly. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;3. The temperature should be kept below 25 °C. If the temperature goes up the light intensity should be reduced by providing shade. If possible, it is best to place the production unit where it is shady. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;4. The pH should be tested periodically and should be maintained between 5.5 and 7. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;5. About 5 kg of bed soil should be replaced with fresh soil, once in 30 days, to avoid nitrogen build up and prevent micro-nutrient deficiency. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;6. 25 to 30 percent of the water also needs to be replaced with fresh water, once every 10 days, to prevent nitrogen build up in the bed. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;7. The bed should be cleaned, the water and soil replaced and new azolla inoculated once every six months. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;8. A fresh bed has to be prepared and inoculated with pure culture of azolla, when contaminated by pest and diseases. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;9. The azolla should be washed in fresh water before use to remove the smell of cow dung.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Using azolla as livestock feed&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Azolla should be harvested with a plastic tray having holes of 1 cm2 mesh size to drain the water. Azolla should be washed to get rid of the cow dung smell. Washing also helps in separating the small plantlets which drain out of the tray. The plantlets along with water in the bucket can be poured back into the original bed. When introducing azolla as feed, the fresh azolla should be mixed with commercial feed in 1:1 ratio to feed livestock. After a fortnight of feeding on azolla mixed with concentrate, livestock may be fed with azolla without added concentrate. For poultry, azolla can be fed to layers as well as broilers. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Though there is no large-scale incidence of pests and diseases in silpauline based production system, pest and disease problems have been noticed during intensive cultivation. In case of severe pest attack the best option is to empty the entire bed and lay out a fresh bed in a different location. With this method the cost of production of azolla is less than Rs 0.65 per kilogram, which is equivalent to US$0.015 (see Table 2). &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 297px; height: 279px;" src="http://www.leisa.info/FritZ/source//getblob.php?o_id=76755&amp;amp;a_id=211&amp;amp;a_seq=1&amp;amp;b_seq=1" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Conclusion&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Azolla can be used as an ideal feed for cattle, fish, pigs and poultry, and also is of value as a bio-fertilizer for wetland paddy. It is popular and cultivated widely in other countries like China, Vietnam, and the Philippines, but has yet to be taken up in India, in a big way. Dairy farmers in South Kerala and Kanyakumari have started to take up the low cost production technology and we hope that the azolla technology will be taken up more widely by dairy farmers, in particular those who have too little land for fodder production.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha and S. Rajamony. Natural Resources Development Project, Vivekananda Kendra, Kanyakumari 629 702, India. Email: vknardep@md5.vsnl.net.in &lt;br /&gt;This article is a summary of the article “AZOLLA – A sustainable feed substitute for livestock” by P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha, S. Rajamony. The full article was published in LEISA India, Volume 4 number 1, March 2002. It is available on the website www.leisa.info.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Trying it out &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;After reading the article on azolla in the March 2002 issue of the LEISA India, the LEISA India columnist and organic farmer Mr. Narayan Reddy decided to test the production of azolla on his farm. As his grandchildren were visiting, they were set to dig the first bed of 2 x 3 x 0.15-0.2 m. To simplify the construction, Mr. Reddy made some adaptations: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;He lined the bed with a simple plastic sheet, fixed the sheet with the dug out soil together with some concrete along the edges, taking care that the plastic above the water was well covered – as otherwise the sun will rapidly deteriorate the plastic. After fixing the plastic, about 2 - 3 cm of stone free soil was carefully put back in the bottom of the bed which was filled with water. The water depth is important; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;too little water will allow the azolla roots to grow into the mud, making it difficult to harvest. Too much water will reduce the production as the roots do not reach close enough to the nutrients at the bottom. After filling the bed, Mr. Reddy went off to the closest university to ask for some azolla plants and put them in the water. He added 0.5 - 1 kg of neem cake to prevent possible pest problems and every three weeks he adds slurry of cow dung and water (10 kg fresh cow dung). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;One and a half years later Mr. Reddy is enthusiastic about azolla. He feeds it to his cows and chickens and after getting used to the azolla (in the beginning he mixed the azolla with concentrate) the animals love it. He has had to fence the bed to keep them out. He also uses the azolla for salads, after washing it in fresh water and removing the root. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He empties and cleans the bed once every half year and starts it up again with some plants, neem cake and cow dung. When the temperatures soar in the summer, the bed is covered with a roof of loose palm leaves to give some shade and reduce light and temperature. However, the use of a simple plastic sheet for lining makes the bed very vulnerable – it can easily be damaged during harvesting or cleaning and Mr. Reddy therefore makes sure that he carries out these tasks himself. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With this simple system, the only costs are for the plastic sheet and for 2 kg of neem cake per year – plus his own labour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita Ingeval&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber :  http://www.acres-wild.com/The%20Farm.shtml&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-4501529556691046689?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/4501529556691046689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=4501529556691046689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4501529556691046689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4501529556691046689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/dari-leisa-magazine-21.html' title='Azolla: a sustainable feed for livestock'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-4522549825521478900</id><published>2009-01-02T15:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T15:46:00.623-08:00</updated><title type='text'>Azolla di Vietnam dari Penelitian sampai menjadi Komoditi Pakan</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Azolla di Vietnam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;dari Penelitian sampai menjadi Komoditi Pakan Ternak yang diperdagangkan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET7910.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 416px; height: 284px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET7910.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET7914.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 384px; height: 259px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET7914.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIETDOVAN.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 396px; height: 264px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIETDOVAN.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET794.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 398px; height: 271px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET794.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET791.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 291px; height: 286px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET791.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET795.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 398px; height: 271px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET795.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET797.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 398px; height: 271px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET797.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET796.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 398px; height: 271px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET796.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET798.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 416px; height: 284px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET798.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET7911.GIF"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 416px; height: 284px;" src="http://www.asahi-net.or.jp/~IT6I-WTNB/VIET7911.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-4522549825521478900?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/4522549825521478900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=4522549825521478900' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4522549825521478900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4522549825521478900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/azolla-di-vietnam-dari-penelitian.html' title='Azolla di Vietnam dari Penelitian sampai menjadi Komoditi Pakan'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-4321012619909822223</id><published>2009-01-02T15:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T15:29:10.187-08:00</updated><title type='text'>Pengelolaan Tanaman Padi  (dengan Azolla)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Pengelolaan Tanaman Padi (dengan Azolla)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oleh : Dr. Syahrir Immanudin, Ph.d &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Nitrogen (N)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran N dalam Tanaman&lt;br /&gt;Nitrogen adalah hara utama tanaman, merupakan komponen dari asam amino, asam nukleid, nudeotides, klorofil, enzim, dan hormon. N mendorong per tumbuhan tanaman yang cepat dan memperbaiki tingkat hasil dan kualitas gabah melalui peningkatan jumlah anakan, pengembangan luas daun, pembentukan gabah, pengisian gabah, dan sintesis protein. N sangat mobil di dalam tanaman dan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Pupuk N pada Padi&lt;br /&gt;N merupakan elemen pembatas pada hampir semua jenis tanah. Oleh karenanya, pemberian pupuk N yang tepat sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, khususnya dalam sistem pertanian intensif. Kekurangan/atau pengelolaan N yang tidak sesuai akan berakibat buruk pada tanaman dan lingkungan. Strategi pengelolaan N yang optimal ditujukan pada keserasian pemberian pupuk N dengan kebutuhan aktual tanaman, sehingga serapan tanaman terhadap N maksimal dan mengurangi kehilangan Nke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kekurangan N.&lt;br /&gt;Tanaman tumbuh kerdil, daun menguning dan jumlah anakan sedikit; hasil rendah karena jumlah malai per unit area dan jumlah gabah per malai lebih sedikit. Terjadinya kekurangan N. Hampir semua jenis tanah kekurangan N; tanah masam dengan tekstur kasar (coarse) dan kandungan bahan organik rendah (kurang dari 0,5 % organik C); tanah masam, salin, drainase buruk, dan tanah kahat P dengan kapasitas mineralisasi N dan fiksasi biologis N rendah; kalkareous dan tanah salin dengan kadar bahan organik rendah serta berpotensi tinggi untuk terjadinya penguapan amonia.&lt;br /&gt;Dosis aplikasi N. &lt;br /&gt;Pupuk anorganik merupakan sumber yang biasa digunakan mensuplai N, dan lebih menguntungkan petani dibandingkan menggunakan pupuk N organik. Sumber pupuk organik N tersedia di lahan pertanian seperti pupuk kandang dan kompos bisa efektif dan menarik secara finansial guna memenuhi kebutuhan padi akan N. Berikan pupuk N anorganik 40-50 kg/ha untuk setiap kenaikan satu ton hasil dari tanpa pemberian N. Pada level hara optimum, tanaman padi (jerami + biji) menyerap sekitar 16 kg N per ton hasil gabah ( 10 kg N dalam gabah + 6 kg N dalam jerami).&lt;br /&gt;Waktu pemberian N.&lt;br /&gt;Warna daun dan penampilan tanaman menunjukkan status N dan membantu menentukan kebutuhan akan pemupukan N. Lihat; i) Pengelolaan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD=leaf color chart=LCC), dan ii) Split aplikasi N berdasarkan fase pertumbuhan dan BWD.&lt;br /&gt;Sumber N&lt;br /&gt;Amonium sulfat (21 % N, 24 % S)&lt;br /&gt;Urea (46 % N)&lt;br /&gt;Diamonium fosfat atau DAP (18 % N; 44-46 % P2O5)&lt;br /&gt;Aplikasi Terpisah&lt;br /&gt;Efisiensi pemupukan N dapat ditingkatkan dengan memonitor warna daun pada selang waktu 7-10 hari dengan BWD dan N diberikan sesuai kebutuhan tanaman (lihat BWD). Alternatif aplikasi pemupukan N dengan pendekatan waktu pemberian disajikan berikut ini untuk kasus di mana petani tidak mungkin melakukan monitoring sawahnya dalam interval 7-10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola Pendekatan Aplikasi N Terpisah&lt;br /&gt;Pola pendekatan terpisah memberikan anjuran total kebutuhan pupuk N (kg/ha) dan rencana pemecahan dan waktu aplikasi sesuai dengan tahapan pertumbuhan tanaman, varietas yang digunakan dan metode penumbuhan tanaman. Bagan Warna Daun (BWD) digunakan untuk pemupukan susulan tersendiri. Perkirakan kebutuhan total pupuk N dan buat pola pemecahan aplikasinya. Gunakan BWD pada tahap pertumbuhan tanaman kritis untuk menyesuaikan dosis N yang ditentukan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperkirakan Kebutuhan Total Pupuk N&lt;br /&gt;Buat plot pemupukan (F) di lahan petani (lihat Petakan plot omisi). Bandingkan hasil dari plot -F yang mewakili hasil dengan pembatas N dengan target hasil di lokasi tersebut, berdasarkan pengetahuan yang dimiliki untuk hasil yang dapat dicapai dengan antisipasi pengelolaan tanaman dan pemupukan. Beda antara hasil target dan hasil –N menunjukkan antisipasi tanggap tanaman padi terhadap pemupukan N. Tetapkan kebutuhan total pupuk N berdasarkan keperluan 40-50 kg N/ha yang merupakan antisipasi tanggap tanaman terhadap N. Prinsip umum respon 40 kg N/ton N sudah memadai pada musim dengan hasil tinggi dan 50 kg N/ton respon memadai pada musim dengan hasil rendah. Kebutuhan N tinggi 60 kg N/ton dijumpai pada kondisi pengelolaan N sub-optimal atau bila target hasil mendekati potensi hasil pada tanggap N rendah (&lt;2 t/ha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan BWD&lt;br /&gt;Gunakan nilai BWD kritis untuk menyesuaikan dosis N terpisah berdasarkan kebutuhan dan status N tanaman. Sebagai contoh, bila 30±10 kg N/ha dianjurkan untuk fase pertumbuhan tertentu,&lt;br /&gt;Berikan 40 kg N/ha, bila warna daun di bawah nilai kritis&lt;br /&gt;Aplikasi pupuk N (urea) selama pertumbuhan tanaman. &lt;br /&gt;Tanaman kahat N dibandingkan dengan tanaman cukup N &lt;br /&gt;Plot tanpa pupuk untuk memperkirakan suplai alami N tanah.&lt;br /&gt;Berikan dosis standar 30 kg N/ha bila warna daun sesuai nilai kritis&lt;br /&gt;Tangguhkan pemberian pupuk dan berikan dosis kurang dari 20 kg N/ha bila warna daun di atas nilai kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merancang pola pemberian terpisah&lt;br /&gt;Gunakan tabel di atas untuk membuat pola pemecahan pemberian pupuk N pada setiap domain pertumbuhan. Penyesuaian pada kondisi spesifik diperlukan dengan partisipasi petani setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla&lt;br /&gt;Azolla adalah sejenis pakis (fern) air tawar yang hidup di kolam, danau, rawa dan sungai kecil baik di kondisi tropis maupun sub tropis. Untuk berabad lamanya, azolla telah digunakan sebagai pupuk hijau di Cina Selatan dan Vietnam Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Azolla pada Padi&lt;br /&gt;Azolla berasosiasi dengan ganggang biru hijau algae anabaena dapat memfiksasi N dari udara ke dalam bentuk amonia yang dapat diserap tanaman padi saat diinkorporasikan ke dalam tanah. Azolla mengandung 2-5 % N, 3-6 % K (bahan kering).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Azolla pada Padi&lt;br /&gt;Perbanyakan&lt;br /&gt;Azolla memperbanyak diri secara vegetatif (tidak menghasilkan biji). Dengan demikian, inokulum azolla dipertahankan hidupnya sepanjang tahun dengan menumbuhkannya dalam kolam kecil atau parit berisi air (untuk luas 4-5 m2 dengan dalam 0,5-1,0 m, dibutuhkan 250-500 gm (berat segar) inokulum)&lt;br /&gt;Azolla tumbuh baik pada suhu rata-rata harian 25º C, namun mati bila suhu lebih tinggi. Dapat digunakan, baik pada padi musim hujan maupun kemarau.&lt;br /&gt;Azolla dapat digunakan dengan 2 cara: 1) sebagai pupuk hijau, dibenamkan ke dalam tanam sebelum tanam pindah dan 2) sebagai intercrop, dibenamkan setelah tanam pindah.&lt;br /&gt;Pada kedua cara tersebut, diberikan sekitar 500 kg berat segar/ha pada air yang tergenang di sawah.&lt;br /&gt;Pembenaman azolla sebelum transplanting&lt;br /&gt;Tumbuhkan azolla sekitar satu bulan sebelum pembenaman saat tanam pindah. Pupuk azolla dengan 2,2 kg P/ha setiap 5 hari, 4 kg K/ha setiap 10 hari, dan/atau 500-1000 kg/ha pupuk kandang setiap 5-10 hari. Bila pupuk kimia tidak tersedia, dapat digantikan dengan abu.&lt;br /&gt;Tumpangsari azolla&lt;br /&gt;Berikan azolla ke dalam pertanaman padi dalam keadaan tergenang. Tumpangsari azolla biasanya tidak dipupuk (namun bila tersedia super fosfat (TSP) pemberian 4-5 kg P/ha dapat dianjurkan).&lt;br /&gt;Pada kedua sistem, azolla dapat dibenamkan beberapa kali selama siklus pertumbuhan padi.&lt;br /&gt;Kecepatan pertumbuhan&lt;br /&gt;16-20 hari setelah inokulasi, pertanaman akan tertutup oleh sekitar 20 ton azolla, yang selanjutnya dibenamkan ke dalam tanah. Biasanya sebagian azolla dibiarkan tumbuh setelah pembenaman pertama. Kadangkala 3-4 pertanaman azolla diproduksi dan dibenamkan pada setiap kali bertanam padi.&lt;br /&gt;Teknologi ini mampu menghasilkan sekitar 40 t azolla segar/ha setara dengan sekitar 60 kg N/ha. Untuk itu diperlukan aplikasi 0,5 t inokulum azolla segar, 2-3 t pupuk kandang, 20-30 kg P, dan&lt;br /&gt;20 kg K/ha.&lt;br /&gt;Keterbatasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla tidak dapat bertahan pada kondisi kering – sehingga selalu diperlukan genangan air.&lt;br /&gt;Karena azolla berkembang secara vegetatif, inokulumnya harus selalu dipertahankan dalam persemaian sepanjang tahun dan diperbanyak untuk disebarkan sebelum diinokulasikan ke lapang.&lt;br /&gt;Suhu tinggi mengakibatkan meningkatnya serangan hama dan penyakit pada azolla. Cuaca dingin merupakan kunci sukses pemanfaatan azolla.&lt;br /&gt;Diantara unsur hara, P yang terpenting untuk azolla. Karena azolla mengapung, ia tidak dapat menyerap P dari tanah, oleh karenanya pertumbuhannya terkendala oleh kekurangan P bila unsur ini tidak diberikan ke dalam genangan air.&lt;br /&gt;Penggunaan azolla secara ekonomi amat penting. Teknologinya memerlukan tenaga kerja intensif. Petani seringkali tidak memperoleh keuntungan ekonomi dari penggunaan azolla dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia karena adanya tambahan biaya tenaga kerja, kesempatan lahan memperoleh irigasi, binit/inokulum, fosfat, dan pestisida menjadikan penggunaan azolla tidak ekonomis&lt;br /&gt;Sesbania&lt;br /&gt;Sesbania sebangsa leguminosa yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau untuk menambah N dan bahan organik ke dalam tanah. Spesies sesbania yang banyak digunakan di Asia adalah Sesbania cannabina (d/h acculeata). S. restrata dan S. rostrata (menghasilkan nodul fiksasi N pada akarnya). S. rostrata (memproduksi bintil fiksasi N pada akar dan batang) banyak ditemukan di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Sesbania pada Padi&lt;br /&gt;Bahan organik dan N yang dihasilkan Sesbania membantu memperbaiki tanah dan pertumbuhan tanaman. Pada keadaan tertentu, menanam pupuk hijau lebih murah dan pemulihan sumber N, khususnya bila keadaan infrastruktur dan fasilitas transportasi tidak memadai sehingga pupuk menjadi mahal dan tidak dapat tersedia tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Sesbania pada padi&lt;br /&gt;Sesbania dapat menghasilkan 80-100 kg N/ha (setara dengan 4-5 t/ha bahan kering Sesbania) dalam waktu sekitar 40 hari dalam musim hari panjang dan dalam 50-60 hari musim hari pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tanam: Ditanam sebelum atau sesudah padi ketika lahan bera. Sesbania sangat sensisitif terhadap fotoperiod, berbunga dalam sekitar 35 hari selama musim hari panjang dan dalam 125 hari selama musim hari pendek.&lt;br /&gt;Suhu. Sesbania tumbuh bagus pada suhu di atas 25ºC.&lt;br /&gt;Pengolahan lahan. Walaupun Sesbania dapat tumbuh dengan pengolahan tanah minimum,pengolahan lahan sempurna (sekali bajak dengan 2-3 kali garu) akan memberikan pertumbuhanterbaik.&lt;br /&gt;Kebutuhan benih. Bila populasi gulma rendah, benih sesbania dapat disebar sebanyak 30 kg/ha sebelum hujan turun. Tanah diolah dan diairi. Dosis benih dapat dikurangi sampai 16 kg/ha. Berat benih biasanya 14-18 g/100 biji. Untuk meningkatkan perkecambahan (sampai 65 %) dan pertunasan, biji dapat direndam dalam air dengan suhu 100ºC selama 3 detik. Sebagian petani melukai (scarify) benih (sedikit mengupas kulit biji) dengan menumbuk benih dalam karung. &lt;br /&gt;Irigasi: Tanaman tidak memerlukan genangan air, namun irigasi dapat diberikan sewaktu-waktu diperlukan (bila tanah belah/retak dan daun sesbania tampak layu)&lt;br /&gt;Pembenaman. Setelah 45-60 hari, dan sebelum batang mengayu, benamkan sesbania dengan cara antara lain: cacah tanaman agar mudah dibenam melalui pembajakan. Cara yang lebih cepat dan efisien adalah merebahkan tanaman sesbania menggunakan batang kayu yang ditarik ternak, kemudia bajak searah tanaman yang direbahkan tersebut. Hydrotiller efektif digunakan membenamkan biomass sesabania pada lahan berlumpur dalam. Cagewheel berkecepatan tinggi dengan gigi triangular pendek memotong-motong biomass menjadi serpihan sebelum dibenamkan ke lahan berlumpur. Bila memakai hydrotiller lahan diairi terlebih dahulu paling tidak 48 jam sebelum pembenaman biomas. Untuk produksi skala besar, penggunaan traktor 4-roda dengan rototiller paling efisien.&lt;br /&gt;Produksi benih. Benih sesbania diproduksi pada saat panjang hari kurang dari 11 jam. Selama periode tersebut, sesbania berbunga dalam 30-35 hari dan menghasilkan biji 30 hari kemudian. Biji yang dipanen selama musim hujan seringkali kualitasnya rendah karena terserang hama penggerek. Benih dapat juga diproduksi pada lahan marginal, parit atau galengan sawah untuk mengurangi biaya.&lt;br /&gt;Keterbatasan&lt;br /&gt;Kendala sesbania sebagai pupuk hijau :&lt;br /&gt;Produksi benih rendah&lt;br /&gt;Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja (mis. untuk membajak dan membenamkan biomasa ke dalam tanah)&lt;br /&gt;Sesbania sensitif terhadap fotoperiod&lt;br /&gt;Masalah hama&lt;br /&gt;Kompetisi dengan tanaman lain akan lahan dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOSFAT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran P dalam Tanaman&lt;br /&gt;P adalah hara utama tanaman yang penting untuk perkembangan&lt;br /&gt;akar, anakan, berbunga awal, dan pematangan. P mobil dalam tanaman, tetapi tidak mobil dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan P&lt;br /&gt;Gejala kahat P. Tanaman hijau gelap dan kerdil dengan matang lambat (tidak terjadi pembungaan pada kahat P yang parah); gabah hampa tinggi.&lt;br /&gt;Terjadinya kahat P. P seringkali kurang pada tanah berpasir&lt;br /&gt;dengan kandungan bahan organik rendah; tanah kalkareous/ salin/alkalin; degradasi tanah sawah; tanah abu vulkan atau tanah kering masam dengan kapasitas fiksasi P tinggi; tanah gambut; dan tanah sulfat masam dengan kandungan besi dan aluminium tinggi.&lt;br /&gt;Waktu aplikasi P. Benam dan aduk semua pupuk P ke dalam tanah sebelum pelumpuran terakhir dan tanam pindah atau sebar seluruh P pada 10-15 hari setelah benih disebar langsung.&lt;br /&gt;KALIUM (K)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran K dalam Tanaman&lt;br /&gt;Kalium adalah hara tanaman utama yang dibutuhkan untuk meningkatkan perkembangan akar dan vigor tanaman, ketahanan terhadap kerebahan dan hama/penyakit. K mobil dalam tanaman dan sangat mobil di dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi K pada Padi&lt;br /&gt;Kalium seringkali merupakan unsur pembatas untuk memperoleh hasil padi yang tinggi setelah nitrogen (N). Pupuk K perlu diberikan dalam jumlah mencukupi pada hampir semua lahan sawah irigasi. Hara lainnya perlu diberikan dalam jumlah seimbang untuk menjamin respon yang baik dari tanaman terhadap aplikasi K dan pencapaian pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kahat K. Tanaman hijau gelap dan kerdil dengan margin daun cokelat kekuningan dan / atau dengan margin dan ujung daun tua nekrotik, gejala kahat K pada daun dapat menyerupai gejala penyakit tungro, namun tungro biasanya terjadi pada spot-spot yang tersebar (tidak menyeluruh) dan lebih nyata warna daun kuning dan oranye dan tanaman kerdil; gejala pada daun nampak pada fase pertumbuhan lanjut; akar tidak sehat dan menghitam; kerebahan dan kehampaan gabah tinggi; bobot gabah lebih ringan.&lt;br /&gt;Terjadinya kahat K. Kahat K terjadi di daerah pertanaman yang intensif yang mendapat pemupukan N dan P tinggi. K seringkali kurang pada tanah berpasir atau bertekstur kasar; tanah kering masam; lahan sawah terdegradasi; tanah sulfat masam; dan tanah organik. Catatan: penambahan unsur K dari air irigasi cukup nyata pada daerah tertentu ( contoh: di Vietnam).&lt;br /&gt;Dosis aplikasi K. Pada hara tanaman optimum, tanaman padi (jerami+gabah) mengambil sekitar 19 kg K2O (16 K) untuk setiap ton hasil gabah (2,2 kg K2O pada gabah dan 16,8 kg K2O pada jerami). Rekomendasi pemupukan K berdasarkan target hasil dan status K tanah (Tabel..) seperti ditetapkan oleh hasil gabah dari K-petak omisi (lihat teknik Petak Omisi Hara).&lt;br /&gt;Waktu aplikasi K. Bila dosis yang digunakan rendah, benam dan aduk pupuk K ke dalam tanah saat pelumpuran terakhir sebelum tanam pindah atau sebar seluruh pupuk K pada 10-15 hari setelah benih disebar langsung. Pada dosis &gt; 30 K2O/ha, berikan 50% sebagai pupuk dasar dan 50% pada awal pembentukan malai. Pecah pemberian K paling tidak dua kali pada tanah berpasir dengan derajat pencucian tinggi. Pemberian K pada fase pembungaan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit dan kerebahan dengan kanopi rapat dan target hasil tinggi, namun belum tentu meningkatkan hasil.&lt;br /&gt;Sumber Kalium&lt;br /&gt;Yang sudah banyak dikenal adalah kalium klorida (MOP-muriate of potash) yang mengandung 50% K atau 60% K2O dalam bentuk KCl (30 kg K2O setara dengan 50 kg MOP atau KCl). Jerami kaya akan&lt;br /&gt;K (14,0 kg K atau 16,8 kg K2O/ton jerami). Catatan: 1 kg K2O = 0,83 kg K dan 1 kg K = 12 kg K2O. Rekomendasi pemupukan K berdasarkan target hasil dan pembatas hasil K pada K-petak omisi (tanpa K) pada level pengembalian jerami medium (2-3 t/ha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SULFAT (S)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran S dalam Tanaman&lt;br /&gt;Belerang atau Sulfur (S) adalah hara utama penting yang diperlukan untuk produksi khlorofil. S diperlukan untuk memproduksi asam amino (cystein, methionin, dan cystin) dalam tanaman yang berkaitan dengan nutrisi manusia. S sangat mobil dalam tanaman (walaupun lebih kurang mobil dibandingkan dengan N), namun hanya sebagian mobil dalam tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi S pada padi&lt;br /&gt;Gejala kahat S. Tanaman hijau pucat; daun muda menguning pucat (kontras dengan daun tua yang menguning cepat dan mati pada tanaman kahat N). Analisis tanah dan/tanaman diperlukan untukmengkonfirmasikan gejala kahat S.&lt;br /&gt;Terjadinya kahat S. Kahat S sesunggunhnya jarang dijumpai. S mungkin diperlukan pada tanah berpasir yang mudah tercuci; tanah dengan kandungan bahan organik rendah; dan tanah dengan pelapukan tinggi kaya akan besi oksida.&lt;br /&gt;Dosis aplikasi S. Berikan 10 kg S/ha pada kahat S yang parah. Tanaman memerlukan sekitar 2 kg S/ha (jerami+gabah) untuk setiap ton hasil gabah.&lt;br /&gt;Waktu pemberian S. Bila dibutuhkan, berikan semua jenis pupuk S sesaat sebelum pelumpuran bersama dengan pupuk P dan K. Pengaruh pemberian S bertahan sampai 2 musim tanam.&lt;br /&gt;Sumber Pupuk S&lt;br /&gt;Sumber S yang biasa digunakan adalah amonium sulfat (24% S), single super fosfat (12% S), dan gypsum (17% S).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZINC  (Zn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Zn dalam Tanaman&lt;br /&gt;Seng atau Zinc (Zn) adalah hara utama penting yang dibutuhkan tanaman untuk beberapa proses biokimia dalam tanaman padi, termasuk produksi klorofil dan integritas membran. Oleh karenanya kahat Zn mempengaruhi warna dan turgor tanaman. Zn hanya sedikit mobil dalam tanaman dan sangat mobil di dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Zn pada Padi&lt;br /&gt;Zn membatasi pertumbuhan tanaman, suplai Zn tanah rendah atau&lt;br /&gt;kondisi tanah buruk (misalnya, selalu kebanjiran) menghalangi serapan Zn oleh tanaman. Pada kasus tertentu, Zn perlu diberikan sesuai kebutuhan. Hara lainnya perlu diberikan dalam jumlah seimbang untuk menjamin respon tanaman yang baik terhadap pupuk Zn dan pencapaian pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Zn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kahat Zn. Tanaman kerdil dan bercak coklat berdebu&lt;br /&gt;pada bagian atas daun; spot-spot tanaman yang tumbuh jelek; gejala terlihat 2-4 minggu setelah tanam pindah; kehampaan gabah tinggi; pematangan terlambat dan hasil rendah; gejala kahat Zn menyerupai kahat S dan Fe pada tanah alkalin dan keracunan Fe tanah organik berdrainase buruk.&lt;br /&gt;Terjadinya kahat Zn. Kahat Zn tidak sering dijumpai, namun&lt;br /&gt;dapat terjadi pada tanah kalkareous dan netral; pertanaman intensif; tanah sawah yang selalu kebanjiran atau berdrainase buruk; tanah salin dan sodik; tanah gambut, tanah dengan P dan silikat (Si) tersedia tinggi; tanah berpasir; tanah dengan pelapukan tinggi, asam, dan bertekstur kasar; tanah yang terbentuk dari serpentin dan laterik; dan tercuci, tanah sulfat masam tua dengan konsentarsi K, Mg, dan Ca rendah. &lt;br /&gt;Aplikasi Zn. Bila kahat Zn nampak di lapang, berikan 10-25 kg ZnSO4.H2O atau 20-40 ZnSO4.7H2O per ha pada permukaan tanah, atau celupkan akar bibit padi dalam 2-4% larutan ZnO sebelum transplanting (20-40 g ZnO/lt air). Tanaman dapat pulih dari kahat Zn bila sawah didrainasi – kondisi kering meningkatkan ketersediaan Zn. Tanaman hanya memerlukan sekitar 0,05 kg Zn/ha (jerami+gabah) per ton hasil gabah, namun lebih banyak pupuk Zn harus diberikan karena begitu diberikan Zn tidak selalu tersedia bagi tanaman. &lt;br /&gt;Waktu aplikasi Zn. Berikan pupuk Zn pada permukaan tanah setelah pelumpuran terakhir dan perataan lahan atau berikan Zn pada bedeng persemaian 7-8 hari sebelum bibit dicabut. Pengaruh pemberian Zn berlaku sampai 2-5 musim tanam pada semua jenis tanah kecuali tanah alkalin.Pada tanah alkalin, Zn perlu diberikan pada setiap musim tanam.&lt;br /&gt;Catatan: Aerasi tanah –membiarkan mengering– dapat mengurangi kahat Zn.&lt;br /&gt;Sumber Zn&lt;br /&gt;Sumber Zn yang biasa digunakan adalah zinc sulfate terlarut (23-36% Zn), zinc klorida terlarut (48-50% Zn), dan zinc oksida tidak larut (60-80% Zn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FERRUM ( FE )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Fe dalam Tanaman&lt;br /&gt;Fe adalah hara esensial yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung transportasi elektron dalam proses fotosintesis. Fe merupakan akseptor elektron penting dalam reaksi redoks dan aktivator untuk beberapa enzim. Kekurangan Fe akan menghambat absorpsi K. Fe tidak mobil, baik dalam tanaman maupun tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Fe pada Tanaman Padi&lt;br /&gt;Setelah kahat unsur utama N, P, K, S, dan Zn, kahat Fe merupakan urutan penting berikutnya yang membatasi hasil tanaman padi. Aplikasinya harus berimbang agar terjamin pertumbuhan tanaman&lt;br /&gt;yang sehat dan produktif. Pada petak yang kahat Zn bahkan tanaman bisa tidak tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Fe&lt;br /&gt;Gejala kahat Fe. Antartulang daun menguning, daun yang muncul mengalami klorosis. Seluruh daun dan bagian tanaman menguning (khlorotik). Produksi bahan kering dan hasil menurun.&lt;br /&gt;Terjadinya kahat Fe. Kahat Fe tidak dijumpai pada sawah tergenang yang sedikit asam, namun banyak dijumpai pada sawah dengan tekstur tanah berpasir, kalkareous dan bereaksi alkalin. Kahat Fe sering dijumpai pada lahan kering dengan tanah bereaksi netral, kalkareous dan alkalin (basa).&lt;br /&gt;Dosis aplikasi. Kahat Fe sangat sulit diatasi dan mahal untuk dikoreksi. Pemberian pada tanah memerlukan 100-300 kg/ha fero sulfat (sulfat besi). Pemberian melalui daun, 2-3 % larutan fero sulfat atau 100 l/ha Fe chelate 2-3 dalam selang waktu 2 minggu dimulai pada fase anakan. Tanaman memerlukan sekitar 0,5 kg/ha Fe (jerami dan biji/gabah) untuk setiap ton hasil gabah, namun setelah aplikasi Fe tidak tersedia bebas bagi tanaman.&lt;br /&gt;Waktu aplikasi. Berikan solid fero sulfat (FeSO4) di sebelah barisan tanaman padi dengan dosis 100 kg/ha. Dua sampai tiga aplikasi 2-3 % larutan FeSO4 melalui daun atau chelate besi pada selang waktu 2 minggu pada fase anakan.&lt;br /&gt;Sumber Fe&lt;br /&gt;Pupuk Fe yang biasa digunakan adalah larutan fero sulfat (20-30 % Fe), fero amonium sulfat (14 % Fe), dan chelate besi (5-14 %)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Syahrir Immanudin , ph.D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-4321012619909822223?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/4321012619909822223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=4321012619909822223' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4321012619909822223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4321012619909822223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/pengelolaan-tanaman-padi-dengan-azolla.html' title='Pengelolaan Tanaman Padi  (dengan Azolla)'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-4825840010849587455</id><published>2009-01-02T15:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T15:22:35.175-08:00</updated><title type='text'>Azolla di Vietnam</title><content type='html'>&lt;p&gt;Azolla di Vietnam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 349px; height: 232px;" src="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image053.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image060.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 349px; height: 220px;" src="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image060.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image059.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 174px; height: 270px;" src="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image059.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image056.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 211px;" src="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image056.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image057.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 349px; height: 229px;" src="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image057.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image055.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 230px;" src="http://www.fao.org/ag/AGAinfo/resources/documents/DW/Images/image055.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-4825840010849587455?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/4825840010849587455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=4825840010849587455' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4825840010849587455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/4825840010849587455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/azolla-di-vietnam.html' title='Azolla di Vietnam'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-7123392472428811670</id><published>2009-01-02T15:05:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T15:10:35.716-08:00</updated><title type='text'>Azolla microphylla  Sumber pakan hijauan yang potensial dan murah untuk Ternak</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Azolla microphylla&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Sumber pakan hijauan yang potensial dan murah untuk Ternak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 720px; height: 540px;" src="http://balanceclimate.com/azo/Slide1.GIF" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://balanceclimate.com/images/COW.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 663px; height: 488px;" src="http://balanceclimate.com/images/COW.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://balanceclimate.com/images/P.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 550px; height: 450px;" src="http://balanceclimate.com/images/P.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://balanceclimate.com/images/PI.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 613px; height: 488px;" src="http://balanceclimate.com/images/PI.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://balanceclimate.com/images/G.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 613px; height: 425px;" src="http://balanceclimate.com/images/G.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-7123392472428811670?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/7123392472428811670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=7123392472428811670' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7123392472428811670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/7123392472428811670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2009/01/azolla-microphylla-sumber-pakan-hijauan.html' title='Azolla microphylla  Sumber pakan hijauan yang potensial dan murah untuk Ternak'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-3727449865603285376</id><published>2008-07-11T18:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T02:00:46.056-07:00</updated><title type='text'>Beberapa hasil penelitian Azolla</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydHNSAII/AAAAAAAAAK0/NFpvInNuxWo/s1600-h/Organic-Farming-in-Krayan-N.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222049612412616834" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydHNSAII/AAAAAAAAAK0/NFpvInNuxWo/s320/Organic-Farming-in-Krayan-N.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydfClUMI/AAAAAAAAAK8/4Z506OVWzPk/s1600-h/Sawah-&amp;amp;-Kebun-di-Sebatik.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222049618810196162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydfClUMI/AAAAAAAAAK8/4Z506OVWzPk/s320/Sawah-%26-Kebun-di-Sebatik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydUUlkII/AAAAAAAAALE/wrs3ezJCjC0/s1600-h/Sawah-H-Alimuddin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222049615932919938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydUUlkII/AAAAAAAAALE/wrs3ezJCjC0/s320/Sawah-H-Alimuddin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhsE7Gz5yI/AAAAAAAAAKM/4YxTeL9tlHE/s1600-h/Sawah-&amp;amp;-Kebun-di-Sebatik.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhsFK_UhXI/AAAAAAAAAKU/AANGqJ1ZUwg/s1600-h/Siram-dengan-mesin-semi-man.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhsFcG_6yI/AAAAAAAAAKc/Z4L3akbtt4M/s1600-h/Sawah-Sei-Pancang-web.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhsFnVQ_RI/AAAAAAAAAKk/JC5Nbi4PNLk/s1600-h/Demo-Nutrisi-Saputra.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhsFgqGJlI/AAAAAAAAAKs/jp734japRK8/s1600-h/Biokultur-di-sawah-Krayan-J.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222042609857734226" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhsFgqGJlI/AAAAAAAAAKs/jp734japRK8/s320/Biokultur-di-sawah-Krayan-J.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penelitian Azolla (Anabaena Azolae)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan Timur, Selatan dan Tenggara Asia termasuk Indonesia di mana banyak diusahakan padi sawah, salah satu masalah yang dihadapi adalah kesuburan lahan yang berkelanjutan. Hal ini sangat penting karena saat sekarang yang dipacu adalh produksi yang semakin tinggi dari satu jenis tanaman yaitu padi sawah, dengan target kenaikan produksi untuk setiap tahun. Justru pada lahan sawah di kawasan tersebut, bahan organik tanah dan tingkat nitrogen acapkali terbatas. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia. Sumber nitrogen alternatif ini adalah pupuk hijau. Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla adalah paku air mini ukuran 3-4 cm yang bersimbiosis dengan Cyanobacteria pemfiksasi N2. Simbiosis ini menyebabkan azolla mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina dan Vietnam sebagai sumber N bagi padi sawah. Azolla tumbuh secara alami di Asia, Amerika, dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla mempunyai beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan azolla sebagai sumber penyumbang Nitrogen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat yang diseponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) menggunakan 15N menunjukkan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70 – 90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertum-buhan Azolla adalah 0,355 – 0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginoku-lasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla tersebut ditumbuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan ini dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa Azolla tumbuh kembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;~Sumber N dapat mengganti pupuk urea sampai 100 kg&lt;br /&gt;~Pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik&lt;br /&gt;~Menekan pertumbuhan gulma&lt;br /&gt;~Tanaman hias&lt;br /&gt;~Kontrol terhadap perkembangan nyamuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian di Batan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Azolla untuk menghemat penggunaan pupuk buatan.&lt;br /&gt;Lokasi : Pusakanegara (Pantura)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan Produksi padi sawah (ton ha-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lapisan Azolla + 50 kg urea 5&lt;br /&gt;2. Lapisan Azolla + 100 kg urea 6&lt;br /&gt;3. Lapisan Azolla + 150 kg urea 6,5&lt;br /&gt;4. Tanpa lapisan Azolla + 150 kg urea 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: Optimal pada perlakuan No.2, menghemat 50 kg urea per ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara perbanyakan Azolla&lt;br /&gt;1. Buatlah stok Azolla dekat rumah dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya.&lt;br /&gt;2. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P ( 1 sendok makan SP-36 per l air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.&lt;br /&gt;3. Di lapang petak sawah dibatasi dengan bambu seluas 1m2 seperti ditunjukkan pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengaplikasikasikan Azolla 200 g/m2 :&lt;br /&gt;I. Sampai dengan hari ke-5, Azolla akan berkembang, sehingga permukaan lahan tertutup&lt;br /&gt;penuh (batas garis merah)&lt;br /&gt;II. Hari ke-10, menjadi 2 kali lipat (batas garis biru)&lt;br /&gt;III. Hari ke-15, menjadi 4 kali lipat (batas garis coklat)&lt;br /&gt;IV. Hari ke-20, menjadi 8 kali lipat , dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Menggunakan Azolla&lt;br /&gt;1. Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit&lt;br /&gt;2. Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam&lt;br /&gt;3. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat :&lt;br /&gt;~ mengambil N yang hanyut dan menguap&lt;br /&gt;~ menahan pertumbuhan gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan unsur hara dalam Azolla Unsur Jumlah&lt;br /&gt;N 1.96-5.30 (%)&lt;br /&gt;P 0.16-1.59 (%)&lt;br /&gt;K 0.31-5.97 (%)&lt;br /&gt;Ca 0.45-1.70 (%)&lt;br /&gt;Mg 0.22-0.66 (%)&lt;br /&gt;S 0.22-0.73 (%)&lt;br /&gt;Si 0.16-3.35 (%)&lt;br /&gt;Na 0.16-1.31 (%)&lt;br /&gt;Cl 0.62-0.90 (%)&lt;br /&gt;Al 0.04-0.59 (%)&lt;br /&gt;Fe 0.04-0.59 (%)&lt;br /&gt;Mn 66 - 2944 (ppm)&lt;br /&gt;Co 0.264 (ppm)&lt;br /&gt;Zn 26 - 989 (ppm)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-3727449865603285376?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/3727449865603285376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=3727449865603285376' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/3727449865603285376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/3727449865603285376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/penelitian-azolla-anabaena-azolae-di.html' title='Beberapa hasil penelitian Azolla'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHhydHNSAII/AAAAAAAAAK0/NFpvInNuxWo/s72-c/Organic-Farming-in-Krayan-N.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-6087959514517872399</id><published>2008-07-11T17:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T17:58:44.184-07:00</updated><title type='text'>Azolla, Pupuk hijau baik untuk padi</title><content type='html'>Azolla, Pupuk hijau baik untuk padi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azolla sp. adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam, mempunyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N2) dari udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam mempengaruhi peningkatan tanaman padi. Hal ini telah dibuktikan dibeberpa tempat dan beberapa negara. Konstribusi terbesar azolla adalah dengan menjaga hasil panen tetap tinggi. Meskipun penggunaannya sebagai pupuk hijau pada tanaman padi masih dilakukan di China dan Vietnam, dengan adanya peningkatan biaya tenaga kerja , membuatnya kurang diminati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, seiiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Dengan adanya mindazbesi yang menggabungkan mina padi dengan azolla, selain menjadikannya sebagai pakan perikanan juga konstribusi dapat digunakan untuk peningkatan produksi padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  Kandungan Nutrisi pada Tanaman Azolla Sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1  Nitrogen            4.5&lt;br /&gt;2  Fosfor                0.70&lt;br /&gt;3  Kalsium             0.70&lt;br /&gt;4  Kalium               3.30&lt;br /&gt;5  Magnesium       0.60&lt;br /&gt;6  Mangan             0.10&lt;br /&gt;7  Besi                    0.20&lt;br /&gt;8  Protein Kasar   27.00&lt;br /&gt;9  Lemak Kasar    3.20&lt;br /&gt;10  Gula                3.50&lt;br /&gt;11   Amilum          6.50&lt;br /&gt;12   Klorofil           0.50&lt;br /&gt;13   Abu                 10.50&lt;br /&gt;14   Serat Kasar   9.10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-6087959514517872399?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/6087959514517872399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=6087959514517872399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/6087959514517872399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/6087959514517872399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/azolla-pupuk-hijau-baik-untuk-padi.html' title='Azolla, Pupuk hijau baik untuk padi'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-3559293097479086354</id><published>2008-07-11T17:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T17:48:11.237-07:00</updated><title type='text'>Bapak Ir. Zainal Sudjais pendiri Azolla Centre</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QNAFDoI/AAAAAAAAAJk/qwGYFR6QKEo/s1600-h/Bapak-Zainal-Sudjais.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221918548745850498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QNAFDoI/AAAAAAAAAJk/qwGYFR6QKEo/s320/Bapak-Zainal-Sudjais.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Bapak Ir. Zaenal Soejais Sang Ketua Mapporina mendirikan Azolla Centre di Cikampek.  Beliau ingin menebus kesalahan masa lalu karena telah merusak lahan dan sawah dengan pupuk Urea, pada saat beliau menjadi Direktur PT. PUSRI, PT. PKT, dll.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QGkHzZI/AAAAAAAAAJs/7tg1zgiv92U/s1600-h/Sawah-di-lembah-Berian-Baru.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221918547017977234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QGkHzZI/AAAAAAAAAJs/7tg1zgiv92U/s320/Sawah-di-lembah-Berian-Baru.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sawah-sawah di Kecamatan Kayan Nunukan Kaltim ini tidak pernah tersentuh pupuk kimia.  Dengan kearifan lokal dibuat suatu konvensi untuk tidak menggunakan kimia di sawah ini.  Pure Organic ! 100 % Organic! &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QdchR_I/AAAAAAAAAJ0/T0CPcqc93_Q/s1600-h/Pertemuan-dg-Pak-Umar-Nutri.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221918553160108018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QdchR_I/AAAAAAAAAJ0/T0CPcqc93_Q/s320/Pertemuan-dg-Pak-Umar-Nutri.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Bertemu dengan Bapak Umar Saputra, Sang penemu Nutrisi Saputra di Ruang Kerja beliau di Bogor.  Pertanian memang harus maju dan dapat mensejahterakan para petaninya.  Kami sangat setuju Pak!&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QkqFxDI/AAAAAAAAAJ8/2CE017mIHqE/s1600-h/Dg-P-Awang-Damid-Brunei-008.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221918555096073266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QkqFxDI/AAAAAAAAAJ8/2CE017mIHqE/s320/Dg-P-Awang-Damid-Brunei-008.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tamu dari Negeri Brunei Darussalam, yaitu Bapak H. Datuk Awang Damid.  Beliau adalah pengusaha besar di negerinya.  Obsesi beliau adalah bekerja sama dengan Indonesia di perbatasan dalam bidang pertanian, sehingga keamanan pangan di Brunei bisa didukung dari negeri tetangga.  Nunukan adalah daerah Indonesia yang terdekat.  Kalau dibangun jalan sepanjang perbatasan, aksesnya sekitar 8 jam, ya seperti naik bus dari Surabaya ke Jogjakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QjbpTRI/AAAAAAAAAKE/SeSuptH_JyQ/s1600-h/Sawah-panen-di-Krayan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221918554767052050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QjbpTRI/AAAAAAAAAKE/SeSuptH_JyQ/s320/Sawah-panen-di-Krayan.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Panen padi di Krayan.  Dengan mengembangkan Azolla di sawah-sawah ini produksi padi meningkat, meskipun tanpa pemupukan kimia.  Selain itu petani juga menikmati hasil panen ikan dan itik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penulis: Muhammad Fauzi (JakataMiol)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pupuk organik Azolla mampu meningkatkan produksi padi hingga sembilan ton per hektare. Padahal umumnya dengan pupuk anorganik (buatan) hanya enam ton per hektare. Demikian diungkapkan mantan Direktur Pupuk Sriwijaya Zaenal Sudjais, peneliti dan pengguna azolla Sudiono dan Ketua Badan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Selasa (8/8).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudjais mengatakan, dua tahun sebelum pensiun dari Pupuk Pusri, dia menyadari banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk buatan secara terus menerus mengakibatkan kandungan organik tanah (humus) menurun drastis. Akibatnya kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara dan kehidupan biota cenderung menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibaratnya tanah pertanian kita selama lebih 30 tahun ini dalam kondisi lapar dan lelah, meskipun penggunaan pupuk anorganik ditingkatkan. Azolla mampu merevitalisasi tanah karena tanaman tersebut merupakan unsur nitrogen yang dibutuhkan tanaman, khususnya padi," kata Sudjais.Azolla merupakan tanaman paku air yang tersebar di daerah tropik dan subtropik. Azolla mengandung N (nitrogen) sekitar 4%-5% dan tanaman ini mampu menimbun N sebanyak 25-30 kg N per hektare selama 30 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa negara di Asia telah menggunakan azolla sebagai pupuk biologi. Antara lain, China, Srilanka dan Thailand.Sementara itu Sudiono mengungkapkan mengetahui azolla sejak 1991 dari berbagai bacaan. Awalnya dia hanya menjadikan azolla sebagai pupuk organik namun, seiring perkembangan ternyata azolla juga bisa untuk pakan ternak (itik, dan babi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama menggunakan pupuk azolla hasil panen padi meningkat. Satu hektare dengan penggunaan 2 kuintal azolla mampu menghasilkan sembilan ton padi. Padahal pupuk buatan maksimal enam ton saja," kata Sudiono yang mantan penyuluh pertanian di Kabupaten Malang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Sisiwono, sebenarnya International Rice Reseach Institute (IRRI) sejak 1972 telah melakukan penelitian terhadap azolla. Tapi anehnya hasilnya tidak pernah dipublikasikan atau dimasyarakatkan.Hal ini disebabkan karena azolla merupakan sumber nitrogen di tanah persawahan yang menjadi pesaing besar bagi pupuk nitrogen buatan. Padahal secara ekonomis, azolla lebih menguntungkan dibanding pupuk nitrogen buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Azolla mudah dibudidayakan dan murah sehingga ketergantungan terhadap pupuk buatan bisa dihilangkan. Ini menguntungkan petani dan pemerintah sebab gas (bahan baku pupuk buatan) bisa diekspor maksimal," imbuh Siswono.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-3559293097479086354?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/3559293097479086354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=3559293097479086354' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/3559293097479086354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/3559293097479086354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/bapak-ir-zainal-sudjais-pendiri-azolla.html' title='Bapak Ir. Zainal Sudjais pendiri Azolla Centre'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHf7QNAFDoI/AAAAAAAAAJk/qwGYFR6QKEo/s72-c/Bapak-Zainal-Sudjais.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4887055036154146986.post-8751939212622240875</id><published>2008-07-11T15:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T16:32:53.621-07:00</updated><title type='text'>Manfaat Tanaman Azolla</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm9vR8nuI/AAAAAAAAAH0/yzn-U6srNKg/s1600-h/Azolla-basah-dan-kering.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221896241297530594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm9vR8nuI/AAAAAAAAAH0/yzn-U6srNKg/s320/Azolla-basah-dan-kering.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Foto 1.  Azolla microphylla di kolam dipanen dengan serok.  Azolla basah dan kering.&lt;br /&gt;Azolla basah disukai oleh ikan, itik, maupun ternak besar seperti kambing, sapi, dll.  Azolla kering bisa dicampurkan dalam pembuatan pakan ternak untuk menambah nilai gizi, terutama protein.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm91SuhLI/AAAAAAAAAH8/TYaKEJ6DwDs/s1600-h/Azolla-di-Unmuh-Malang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221896242911413426" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm91SuhLI/AAAAAAAAAH8/TYaKEJ6DwDs/s320/Azolla-di-Unmuh-Malang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Foto 2.  Kolam Azolla ini ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).  UMM mengembangkan Azolla di kolam-kolam percobaannya untuk bahan penelitian para dosen dan mahasiswa.  Jenis Azolla yang diteliti yaitu Azolla microphylla&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm-H7B45I/AAAAAAAAAIE/a6v2SSQZiBg/s1600-h/Sang-PPL-Kamaruddin-cinta-A.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221896247912293266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm-H7B45I/AAAAAAAAAIE/a6v2SSQZiBg/s320/Sang-PPL-Kamaruddin-cinta-A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Foto 3.  Kamaruddin, Sang PPL THL Deptan di Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur sedang mengamati Azolla microphylla yang sudah cukup berkembang di sawah-sawah sejak tahun 2007 yang lalu.  Dengan Azolla kesuburan sawah dapat ditingkatkan, petani tidak perlu lagi mendatangkan pupuk Urea dan lainnya, ikan yang ada di sawah juga akan berkembang biak dan tumbuh pesat,  serta itik yang dilepas di sawah mendapatkan sumber makanannya yang melimpah, yaitu Azolla microphylla.  Begitu ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm-TybuLI/AAAAAAAAAIM/VVUicAYc73g/s1600-h/Pak-Syarif-Unmuh-sang-Penel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221896251097462962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm-TybuLI/AAAAAAAAAIM/VVUicAYc73g/s320/Pak-Syarif-Unmuh-sang-Penel.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;Foto 4.  Bapak Ir. Syarifuddin MSi, Dosen UMM ini sangat getol meneliti Azolla microphylla.  Dengan kebaikan hati beliaulah bibit Azolla microphylla bisa sampai dan berkembang di Nunukan Kalimantan Timur.  Terima kasih Bapak!!&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm-gIL1XI/AAAAAAAAAIU/TL9pBZnYKPQ/s1600-h/Menabur-bibit-Azolla-di-pin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221896254409921906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm-gIL1XI/AAAAAAAAAIU/TL9pBZnYKPQ/s320/Menabur-bibit-Azolla-di-pin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Foto 5.  Kolam ini dibersihkan dari ikan untuk secara khusus ditanami Azolla microphylla.  Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tulisan di bawah ini adalah buah pikiran Saudara Agus Rochdianto.  Beliau sangat memperhatikan Azolla. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Agus Rochdianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.&lt;br /&gt;Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengganti Urea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.&lt;br /&gt;Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.&lt;br /&gt;Dibanding pupuk buatan, azolla memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.&lt;br /&gt;Untuk media tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan ternak dan ikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain untuk pupuk dan media tanam, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbohidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.&lt;br /&gt;Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini bearti penggunaan azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, azolla bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung azolla ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet.Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan. Mau coba ? (gus)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4887055036154146986-8751939212622240875?l=kolamazolla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kolamazolla.blogspot.com/feeds/8751939212622240875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4887055036154146986&amp;postID=8751939212622240875' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/8751939212622240875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4887055036154146986/posts/default/8751939212622240875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/manfaat-tanaman-azolla.html' title='Manfaat Tanaman Azolla'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SHfm9vR8nuI/AAAAAAAAAH0/yzn-U6srNKg/s72-c/Azolla-basah-dan-kering.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry></feed>
