..Selamat membuka blog ini Mas Anas Nurul Yaqin Merakurak Tuban...

Rabu, 04 April 2012

Hasil Penelitian Tepung Azolla sebagai alternatif pakan Domba






PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG AZOLLA MICROPHYLLA DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN DOMBA LOKAL JANTAN
Oleh :
Achmad Abror Anshori
ABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG Azolla microphylla DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN DOMBA LOKAL JANTAN

Produktivitas domba dapat ditingkatkan dengan pemberian pakan berkualitas dan mempunyai kandungan nutrien yang cukup. Ransum yang diberikan pada ternak domba pada umumnya terdiri dari hijauan sebagai pakan utama dan konsentrat sebagai pakan penguat. Untuk mengurangi proposi penggunaan konsentrat, digunakan pakan alternatif berupa tepung Azolla microphylla yang mempunyai kandungan nutrien cukup baik, mudah dikembangkan dan tidak bersaing dengan manusia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung Azolla microphylla dalam ransum terhadap performan domba lokal jantan.

Konsentrat yang digunakan yaitu konsentrat komersial BC 132.
Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu di Mini Farm Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang berlokasi di Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar.

Materi yang digunakan adalah domba lokal jantan sebanyak 12 ekor dengan bobot badan rata-rata 14,98+0,68 kg dibagi dalam empat macam perlakuan dan tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari satu ekor domba.

Perlakuan yang diberikan masing-masing adalah
P0 (rumput lapang 60% + konsentrat 40%),
P1 (rumput lapang 60% + konsentrat (95% konsentrat + 5% tepung Azolla microphylla)),
P2 (rumput lapang 60% + konsentrat (90% konsentrat + 10% tepung Azolla microphylla)),
P3 (rumput lapang 60% + konsentrat (85% konsentrat + 15% tepung Azolla microphylla)).

Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan dan feed cost per gain. Data konsumsi dan konversi pakan dianalisis variansi Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah, pertambahan bobot badan harian dianalisis dengan analisis kovariansi, sedangkan untuk feed cost per gain dilaporkan secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata dari keempat macam perlakuan yaitu P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut untuk konsumsi 711,83; 730,15; 754,29; dan 763,46 gram/ekor/hari, pertambahan bobot badan harian 41,07; 51,19; 53,57; 60,12 gram/ekor/hari, konversi pakan 17,48; 14,65; 14,08; dan 12,73 dan feed cost per gain Rp. 12853.79/kg, Rp. 21683.10/kg, Rp. 28300.69/kg, dan Rp. 32333.57/kg.

Hasil analisis variansi untuk konsumsi dan konversi pakan dan analisis kovariansi untuk pertambahan bobot badan harian dari keempat macam perlakuan masing-masing adalah berbeda tidak nyata.

Kesimpulan penelitian ini adalah Penggunaan Tepung Azolla microphylla sampai taraf 15% dari total konsentrat dalam ransum tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan harian (PBBH), dan konversi pakan akan tetapi dapat meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan berat badan harian (PBBH) domba lokal jantan yang dipelihara selama penelitian.

Kata kunci: tepung Azolla microphylla, domba lokal jantan, performan.

Sumber : http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=4908

Ternak Itik, Ternak Sapi, Ternak Cacing Merah dan Budidaya Azolla







Ternak Itik, Ternak Sapi, Ternak Cacing Merah dan Budidaya Azolla

Anak itik yang disebut titit dapat dibeli 200 ekor dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 600.000,00. Pakan untuk 2 bulan sebanyak 2 kintal (jenis pakannya bisa ditanyakan ke toko pertanian). Harga untuk 2 kintal (200kg) pakan itu adalah Rp 800.000. Satu ton = 1000kg. Satu ton = 10 kintal. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 200 ekor x Rp 18.000,00 = 3,6 juta. Bila keuntungan dipotong modal maka laba bersih adalah 3,6 – 1,4jt = 2,2jt. Keuntungan 2,2 juta dalam waktu sebulan cukup menarik. Modal 1,4jt diambil dari 600rb + 800rb.

Peternakan itik sangat menarik terutama bila ada lahan untuk memeliharanya (kandang) dan ada penadah yang membeli itik dewasa ini.

Pakan yang menarik untuk itik adalah azolla pinnata. Azolla pinnata ini biasa tumbuh di kolam atau di sawah. Azolla dapat dijadikan pakan itik. Azolla bahkan dapat dijadikan (campuran) pakan domba dan sapi. Bila seorang peternak mempunyai satu hektar (700 bata), ia dapat memagar lahannya untuk peternakan itik. Itik dapat berkeliaran di lahan itu.

Bila azolla digunakan sebagai campuran pakan, azolla dapat dicampurkan sebanyak 15% dari total pakan. Dengan begitu, 30kg (15% dari 200kg) azolla dapat dikonsumsi sebagai campuran dari total pakan 170kg (85% dari 200kg). Dengan demikian total pakan hanya sebesar Rp 680.000,00 (85% dari Rp 800.000,00).

Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto (http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/manfaat-tanaman-azolla.html) kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.

Selain itu, dapat pula ditambahkan pakan itik berupa cacing (http://mastekop.blogspot.com/2011_01_01_archive.html). Cacing dapat dibudidaya dari kotoran sapi. Satu ekor sapi dapat membuang kotoran (feses) sebanyak 20kg per hari. Bila kotoran cacing ini ditampung di sebuah kolam dan di dalamnya ditanam cacing merah (redworm), maka cacing merah akan berkembang biak. Menurut blog di atas, cacing ini akan membuat kotoran sapi menjadi tidak bau. Hanya saja mesti diperhatikan apakah cacing ini senang dengan tanah berair ataukah hanya lembab saja.

Perhitungan berkaitan dengan cacing merah dan azolla di atas, sangat menarik untuk investasi itik. Tetapi perhitungan berikut belum menggunakan variabel cacing merah, (kotoran) sapi dan azolla sebagai pakan.

Tanpa variabel cacing merah, (kotoran) sapi, dan azolla maka seorang peternak dengan lahan satu hektar dapat memelihara 2000 ekor titit dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 6000.000,00. Bila dikatakan harga pakan Rp 8.000.000,00 maka keuntungannya dapat berlipat. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 2000 ekor x Rp 18.000,00 = 36 juta. Bila modal adalah harga 2000 ekor anak itik (titit) Rp 6jt dan harga 20 kintal pakan adalah 8.000.000,00. Keuntungan dipotong modal akan menghasilkan laba bersih sebesar 36 – 8jt = 28jt. Keuntungan 28jt dalam waktu dua bulan sangat fantastis.

Pakan untuk 2 bulan di atas tanpa mengandalkan azolla pinnata dan cacing merah. Bila peternak juga mempunyai sapi, cacing dan azolla; maka keuntungan dari efisiensi pakan dapat ditingkatkan. Harga untuk pakan itu dapat ditekan.

Tentu saja hal ini perlu dukungan dari sisi penjualan, dan modal lahan yang strategis. Lahan strategis ini ialah adanya aliran air. Mungkin pula aliran air ini dapat dibantu dengan pompa hidram.

Sumber : http://iswara.staf.upi.edu/2010/12/01/ternak-itik/


Catatan koreksi dari Admin (Dian Kusumanto) :

Sebenarnya bukan Azolla pinnata yang dimaksud di tulisan Saudara Iswara di atas, tetapi Azolla microphylla. Kita tahu bahwa Azolla pinnata itu pertumbuhan dan perkembangannya tidak seperti Azolla microphylla yang bisa bertumpuk-tumpuk sampai setebal 5 cm, sedangkan Azolla pinnata hanya selapis tipis di permukaan air, sehingga tidak terlalu banyak hasilnya.


Sekarang sudah ada penyedia bibit Azolla dari Purwokerto

Order Benih Azolla Randi Farm

Kami menerima order benih Azolla microphylla yang bisa anda budidayakan di daerah anda. Azolla kami paketkan dan kami kirimkan ke daerah anda dengan kiriman cepat satu-dua hari. Kami menjual dengan harga Rp 35.000 belum dengan ongkos kirim. Bagi yang berminat silahkan hubungi kami di:
HP : 085647613701 (yusuf randi)
Email : randifarmpurwokerto@gmail.com





HUBUNGI KAMI

Hubungi kami jika ada pertanyaan tentang sistem kami (hidroponik dan aquaponik) , tentang produk kami, peluang kerja sama, saran dan kritik di
HP : 085 647 613 701 (Yusuf)
Email : randifarmpurwokerto@gmail.com
Facebook : Randi Farm Purwokerto
PIN BBM : 227881CE

Sumber : http://randifarm.blogspot.com/2011/12/order-benih-azolla-randi-farm.html


Pakan Lele yang murah dari Azolla

Pemberian azolla sebagai cemilan pakan dalam bentuk kering


Kami akan memberikan informasi terbaru dari Randi Farm hasil analisa dan percobaan yang ada di lapang terkait dengan azolla. Pemberian azolla kepada ikan-ikan lele sebaiknnya dalam bentuk kering, jangan diberikan dalam bentuk basah. Hal ini penting dilakukan mengingat kadar air yang tinggi pada azolla yang jika dimakan ikan lele hanya akan mengeyangkan saja tetapi azolla yang dimakan proteinnya rendah. Alhasil ikan lele justru akan mengalami keterlambatan pertumbuhan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?? karena azolla yang basah dengan kandungan protein rendah jika dimakan oleh ikan, maka ikan akan merasa kenyang dengan cepat dan lama untuk lapar.Hal ini karena adanya serat seperti mekanisme kita jika memakan sayuran. Sehingga pakan pelet yang kita berikan justru akan sedikit dimakan oleh ikan lele.
Kemudian pemberian azolla secara terus menerus juga kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Walaupun ikan akan sehat tapi terkait dengan tinggkat perkembangan justru akan memperlambat.

Mengapa hal ini bisa terjadi?? pemberian azolla secara terus menerus dalam keadaan basah menyebabkan ikan lele setiap saat akan terpenuhi kebutuhan pakannya. Saat ikan lele lapar sedikit saja maka azolla akan dimakan sedikit demi sedikit. Dan kita tau azolla basah kandungan proteinnya rendah. Jika ikan lele sudah kenyang hanya dari azolla. Sehingga jika kita memberikan pakan pelet dengan protein tinggi, alhasil pakan pelet kita tidak dimakan. Namun jika kita tangkap dan kita seser ikan kita. Kita akan mendapatkan ikan lele dengan perut yang gendut tapi miskin protein.



Sehingga kami simpulkan pemberian azolla dalam bentuk basah kurang baik untuk pertumbuhan,sebaiknya diberikan dalam bentuk kering dengan protein yang tinggi. Namun diberikan ke dalam kolam klinik untuk menampung ikan yang sakit justru bisa sebagai diet yang baik untuk ikan lele. Ikan yang sakit memerlukan hijauan untuk memulihkan pencernaannya. Disinilah peran azolla sebagai pakan ikan yang sedang sakit.

Kesimpulan selanjutnya yaitu pemberian azolla baiknya dilakukan sebelum lele masuk atau perlakuan air kolam ikan selama 3-4 hari. Tujuannya yaitu untuk menetralkan air kolam ikan, menyerap polutan, dan menciptakan pakan alami didalam kolam. Setelah 4 hari dan dirasa air kolam sudah siap, angkat azolla dan pindahkan ke kolam lain, barulah ikan lele kita masukkan ke dalam kolam bekas azolla.

Semoga Informasi Ini Bisa Bermanfaat

Sumber : http://randifarm.blogspot.com/2012/03/pemberian-azolla-sebagai-cemilan-pakan.html

Azolla: Sumber Hara Nitrogen yang Terlupakan

Azolla: Sumber Hara Nitrogen yang Terlupakan

Tanaman air yang kecil-kecil banget

azolla
[http://www.geo.uu.nl/]

Dulu waktu aku masih kecil, aku & teman-temanku sering main di sawah di belakang rumah. Mungkin jarang aku perhatikan, di sawah banyak sekali tanaman yang mengambang di permukaan air. Ada beberapa jenisnya. Setelah aku kuliah baru aku tahu kalau salah satu tanaman air ini sangat bermanfaat untuk padi, yaitu Azolla.

Azolla adalah tanaman air yang berdaun kecil-kecil dan pada saat-saat tertentu tumbuh sangat banyak. Warna daunnya bisa sangat hijau dan tebal.

azolla
[http://www.habitas.org.uk/]

Azolla bukan tanaman air sembarangan. Azolla memilikiSaya kemampuan yang tidak dimiliki oleh tanaman air lain, yaitu menambat nitrogen (N) dari udara. Udasa yang kita hirup > 75%nya adalah N. Sayangnya N ini tidak bisa langsung diserap oleh tanaman. Azolla – lah yang menambat N udara menjadi N yang bisa diserap oleh tanaman. Kandungan N di dalam Azolla sangat tinggi untuk ukuran bahan organik, bisa mencapai 4 – 5% dari berat keringnya. Bahan organik yang lain umumnya hanya < 2%.

Kemampuan Azolla untuk menyuburkan tanaman sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Orang-orang China dan Vietnam sudah sejak abad 15 dan 17 sudah memanfaatkan Azolla untuk pupuk tanaman. Kini Azolla telah tersebar di penjuru bumi.

Annabaena azollae: Kawan karib Azolla yang menambat N

Azolla tidak sendirian dalam menambat N dari udara. Azolla bersimbiosis dengan gangang mikro yang namanya Annabaena azollae. Gangang ini tumbuh dan berkoloni di ruangan di bawah daun. Mereka inilah yang bekerja keras menambat N dari udara.

Annabaena sendiri juga unik. Dia akan menambar N jika memang benar-benar diperlukan. Dalam kondisi miskin hara N di perairan, Annabaena akan menambat N. Tetapi jika di lingkungan air tersebut ada N, dalam bentuk urea misalnya, maka Annabaena tidak/sedikit sekali menambat N.

anabaena
[www.search.com/reference/Anabaena]

Anabaena yang berperan menambat N. Bagian N yang aktif menambat adalah sel yang besar itu, namanya heterocyt. Jika di air terdapat amonium (dari urea), sel-sel heterocyt ini tidak ada, dan Azolla tidak bisa menambat N.

Jadi kalau mau nenanam Azolla di lingkungan sawah, jangan terlalu banyak, atau bahkan sama sekali jangan nemambahkan pupuk urea. Urea akan menjadi amonium dan amoniumlah yang membuat Annabaena tidak mau menambat N.

Pemanfaatan Azolla

azolla
[http://www.wikipedia.com]

Cara sederhana untuk memanfaankan Azolla adalah dengan menanam langsung ke persawahan. Sawah yang digenangi air ditabur bibit Azolla. Azolla yang tumbuh langsung dimanfaatkan untuk tanaman padi.

Cara lain adalah dengan menanam Azolla secara khusus di kolam. Penanaman Azolla perlu tambahan pupuk fosfat. Azolla yang tumbuh subur dapat dipanen secara berkala. Produksi Azolla bisa mencapai 3,8 kg/m2.

Kolam azolla
[http://www.acres-wild.com/]

azolla
[http://www.cfb.ie/]

Biomassa Azolla ini bisa langsung digunakan untuk memupuk tanaman. Langkah yang lebih baik adalah dengan mengkomposkan Azolla. Kompos Azolla memiliki kualitas kandungan hara yang lebih baik dari kompos dari bahan lain. Kompos inilah yang digunakan sebagai pupuk organik.

Azolla kering juga mengandung N yang tinggi, jadi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkaan kandungan N pupuk organik.

Kendala Pemanfaatan Azolla

Azolla sebagai sumber hara yang kaya N sudah sangat lama diketahui. Pertanyaannya, kenapa tidak banyak yang memanfaatkan.

Saya tidak tahu pasti, ini hanya pendapat saya pribadi. Pertama, meskipun tampaknya mudah, menanam Azolla tidak selalu berhasil. Sekitar tahun 2006-08, saya pernah diberi bibit azolla unggul dari Batan. Setelah saya perbanyak sendiri, bibit ini aku berikan ke petani. Ternyata Azolla itu tidak bisa tumbuh lama. Beberapa bulan kemudian sudah habis tak tersisa.

Kedua, produksi biomassa azolla dalam skala besar memerlukan kolam-kolam yang luas. Ini problem tersendiri yang tidak mudah dipecahkan.

Meskipun demikian, menurut saya, Azolla merupakan salah satu sumber N organik yang sangat potensial. Azolla perlu digiatkan kembali di tengah-tengah maraknya penggunaan pupuk organik saat ini. Wallahua’lam.

Sumber : http://isroi.com/2010/07/01/azolla-sumber-hara-nitrogen-yang-terlupakan/


Jumat, 28 Januari 2011

Azolla si Pupuk Hidup

Azolla si Pupuk Hidup

Oleh : Ratna M. Noer



Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak 15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.

Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.


Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak 70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari 0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.



Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.

Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?

Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.

Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.

Seorang petani di Kyushu, Jepang T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap 3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi). Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China).

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama. Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern)

Sumber : http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/01/26/azolla-si-pupuk-hidup/

Minggu, 20 Juni 2010

Video tentang Azolla

Beberapa alamat URL Video tentang Azolla di Youtube :


1.  Cultivation of azolla, a biofertiliser : A Method demonstration  : http://www.youtube.com/watch?v=izuDRRPdp4c

2. Azolla : http://www.youtube.com/watch?v=kJyIeksKaEU&feature=related

3. Azolla : http://www.youtube.com/watch?v=eA-mjXsPBsU&feature=related

4. Improved azolla in Saraswathinagara : http://www.youtube.com/watch?v=DtaGFlJdS2s&feature=related

5. Azolla microphylla from Aren Foundation : http://www.youtube.com/watch?v=4b-4qO3Ufsg