..Selamat untuk anakku Alifia Qurata Ayun wisuda Sarjana Farmasi.

Senin, 08 Desember 2014

Pelet Azolla menghemat pakan pabrikan hingga 22%





(Foto dari google)


Artikel Majalah Trubus Bulan Desember 2014 pada halaman 22 menampilkan sebuah tulisan tentang Azolla.  Judulnya Hemat Berkat Azolla dengan sub judul Azolla menghemat penggunaan pakan pabrik hingga 22 %.

Ditampilkan sosok Suminto seorang peternak Lele dari Mandiraja Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah.  Omzet Suminto melambung hingga Rp 12 juta dari penjualan 1 ton lele seharga Rp 12.000 per kg, meraih laba bersih Rp 1,7 juta per siklus pembesaran.  Padahal 2013 lalu laba bersihnya hanya pada kisaran Rp 500 ribu hingha Rp 1 juta saja.  Peningkatan keuntungan hingga 70 % itu karena Suminto mengganti pakan pabrikan dengan pelet berbahan baku Azolla.

Biaya pakan untuk pembesaran Lele sangat tinggi, mencapai 70-80 % dari ongkos produksi, akibatnya margin usaha pembesaran Lele ini sangat sedikit alias tipis.  Hal ini seperti diungkapkan Sugihardjo Spi, Kasi Usaha Perikanan Dinas Tankannak Kabupaten Banjarnegara.   Angka biaya pakan sebesar itu pun juga dialami oleh para peternak ikan lele di Nunukan Kalimantan Utara.  Seperti yang disampaikan oleh Wira Hadisantoso, seorang PPL Perikanan dari BKP3D Kabupaten Nunukan belum lama ini.

Protein tinggi

Akibat tingginya biaya pakan, beberapa peternak mencari beragam cara untuk menyiasatinya.  Salah satu caranya memakai pelet Azolla.  Suminto yang menggunakan Azolla sejak 2013 itu 5 kali panen dengan laba rata-rata Rp 1,7 juta.  Ia membudidayakan Lele di kolam 10 m x 5 m dengan padatbtebar 200 ekor per m2.  Artinya dalam satu kolam ada 10.000 bibit.  Bibit Lele Sangkuriang yang digunakan dengan ukuran 7-9 cm.

Pelet Azolla yang berdiameter 2 mm itu cocok untuk mulut ikan berukuran 7-9 cm.  Kalau bibit Lelenya berukuran lebih kecil maka ukuran pakan kurang pas.  Siklus pembesaran Lele Pak Suminto ini selama 70 hari per siklus, lebih lama 10 hari dibandingkan dengan yang menggunakan pakan pabrik.
Meskipun waktu pembesarannya lebih lama, karena harga pelet buatan sendiri lebih murah, namun dengan pelet Azolla keuntungan masih lebih tinggi.

Untuk mencapai ukuran konsumsi yang sekilo berisi 8-10 ekor itu, memerlukan 1.300 kg pelet Azolla.  Dengan harga pelet Azolla Rp 6.000 per kg atau per siklus Rp 7,8 juta.  Sedangkan jika menggunakanmpelet pabrikan, maka diperlukan Rp 10 juta. Itu diperlukan untuk pembelian pakan Lele sebanyak 1.000 kg dengan harga Rp 10.000 per kg.

Artinya dengan menggunakan pelet Azolla Pak Suminto bisa menghemat  Rp 2,2 juta dari yang semestinya biaya pakan Rp 10 juta.  Atau kalau diprosentasekan yaitu 22 % penghematannya.   Sebelum menghunakan Azolla ternyata Pak Suminto pernah menggunakan Eceng Gondok yang fungsinya pada pelet sama, yaitu membuat pakan terapung.  Bedanya kalau Azolla mempunyai kandungan Protein yang sangat tinggi dibanding Eceng Gondok.

Bersimbiosis

Selain Azolla bahan baku dalam pembuatan pelet kreasi Pak Suminto adalah tepung bekatul, tepung ikan dan silase ikan.  Azolla meliputi 30 %, sementara sisanya bahan yang lainnya.  Pak Suminto memfermentasikan Azolla sebelum digunakan sebagai bahan baku pelet.   Caranya, 50 kg Azolla segar dicampur dengan 1 liter molase (tetes tebu) dan 30 cc probiotik.   Semua bahan itu dimasukkan dalam drum plastik ukuran 200 liter selama 15-20 hari.  Setelah terfermentasi itu Azolla siap digunakan sebagai bahan pelet bercampur dengan bahan yang lainnya.

Menurut hasil penelitian Nurfadhilah dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, ternyata dengan fermentasi kandungan dan kualitas nutrisi Azolla lebih meningkat.   Fermentasi menyebabkan penurunan serat kasar 37 % dan peninhkatan protein 39 %.   Sementara itu hasil risetnya Hany Handayani dari Jurusa Perikanan UMM Malang menunjukkan tepung Azolla terfermentasi mengandung protein hingha 20 %.

Makanya Azolla ini perlu digalakkan di kalangan para peternak ikan.  Bagus lagi kalau para peternak bisa melakukan fermentasi dan membuat pelet Azolla seperti Pak Suminto ini.  Menurut peneliti Azolla dan Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM Malang, Dr Ir Aris Winaya MM MSi, Azolla cocok sebagai pakannikan karena memiliki kandungan protein tinghi.  Protein berperan dalam pertumbuhan Lele.

Selama hidupnya Azolla bersimbiosis mutualisme dengan ganggang hijau biru Anabaena azollae.  Ganggang itu mampu mengikat nitrogen dari udara.  Simbiosis itulah yang membuat kandungan protein Azolla itu tinggi.   Penggunaan pelet Azolla pun dapat menjadi pakan alternatif budidaya Lele.

(Seperti yang disajikan Majalah Trubus edisi Desember 2014)

Rabu, 13 November 2013

Azolla Microphylla Pakan Kambing Sapi Alternatif Tanpa Ngarit

Azolla Microphylla Pakan Kambing Sapi Alternatif Tanpa Ngarit

Macam jenis pakan alternatif bagi kambing peliharaan anda, negara kita merupakan negara kepulauan terbanyak, yang memiliki berbagai macam ragam ekosistem baik hutan,tanah, rumput,dll, oleh sebab itu hampir disetiap daerah memiliki berbagai macam jenis pakan, disini akan diulas mengenai jenis dan macam pakan kambing yang ada.. .
Pakan Hijau-hijauan (rumput, legume & dedaunan)
Pakan hijauan terdiri dari macam jenis, yaitu pakan dari rumput-rumputan, pakan dari legume. dan dari dedaunan, Pakan rumput-rumputan diantaranya rumput gajah, rumput benggala, rumput raja dan turi. untuk pakan legume antara lain seperti lamtoro, kaliandra, kacang-kacangan, dan harendong, dan untuk pakan dedaunan ada daun nangka, daun jagung, jerami, daun mangga, daun, kersen, dll. daun-daunan hijau lebih disukai oleh kambing dibandingkan rumput. Komposisi masing-masing pakan tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek dan dewasa.

Campuran daun-daunan dan rumput dengan perbandingan 1 : 1 akan saling melengkapi dan menjamin ketersediaan gizi yang lebih baik. Di samping itu, kambing tidak cepat bosan melahap pakan hijau yang tersedia. Hindari pemberian hijauan yang masih muda. Jika terpaksa digunakan hendaknya diangin-anginkan terlebih dahulu selama 3-4 jam, untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.

 Pakan Limbah Industri dan Pertanian/alternatif
Selain pakan hijauan, kambing juga menyukai pakan yang berasal dari limbah pertanian. Limbah industri yang dapat dijadikan pakan antara lain seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dedak padi, dan dedak jagung. Sementara contoh limbah pertanian antara lain seperti jerami padi, jerami jagung, daun singkong, daun nangka dan limbah kelapa.
Pakan Tambahan Pakan tambahan berguna untuk memenuhi kebutuhan mineral dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, pakan tambahan ini bermanfaat untuk menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan. Sumber pakan tambahan berupa campuran mineral  (mineral mix) dari garam dapur, kapur, dan premix.
Nantikan tips2 selanjutnya, keberhasilan tak luput dari saran dan kritikan,
Manfaat azolla microphylla untuk pakan alternatif  ternak kambing ternak sapi ternak bebek ternak unggas dan juga untuk pakan ikan
Pengertian  Azolla microphylla, telah kita bahas dalam artikel yang lain, banyak sekarang kita bahas pemanfaataannya. Kita akan bahas beberapa manfaat azolla microphylla untuk pakan alternatif ternak kambing, baik itu kambing etawa kambing gibas kambing jawa randu kambing merino kambing dan jenis kambing yang lain. manfaat azolla microphylla sebagai alternatif pakan ternak sapi, manfaat azolla microphylla sebagai pakan alternatif ikan, manfaat azolla microphylla sebagai alternatif pakan babi, manfaat azolla microphylla sebagi pakan alternatif unggas seperti ayam, bebek , itik , dan lain lain.
1. azolla microphylla sebagai pakan alternatif pakan organik  Ikan gura/ ikan nila / ikan lele 
Azolla microphylla dapat mengurangi atau menghemat penggunaan pakan pabrikan hingga 30%,, namun menurut beberapa literatur penggunaan dalam pakan biasanya sekitar 15% untuk lele. penggunaan dalam bentuk segar bisa diberikan untuk ikan gurami, ikan tawes dan ikan nila. Azolla microphylla dapat digunakan sebagai pakan alternatif organik bagi semua jenis ikan, sepeti ikan gurami ikan lele, ikan tawes dan ikan ikan yang lain
2. azolla microphylla sebagai pakan alternatif pakan organik  Unggas
menurut buku Penerapan Pertanian Organik yang ditulis oleh Rachman Sutanto Azolla bisa  dimanfaatkan untuk campuran pakan ayam,  dan itik, namu tetap dibatasi sekitar 15%, karena dapat mengganggu produktivitas telur. Penggunaan untuk itik bisa digunakan azolla segar umur 2-3 minggu dicampur dengan ransum itik atau bebek
3. azolla microphylla sebagai pakan alternatif pakan organik  Ruminansia seperti sapi kambing kelinci dan hewan ruminansia yang lain
Azolla dapat dimanfaatkan dalam bentuk segar, kering maupun fermentasi. bisa menggantikan hijauan untuk sapi dan dedak padi untuk babi. Kambing dan sapi menyukai azolla basah, jika digunakan campuran dalam bentuk kering maka biasanya sebagai pelengkap sumber protein.
Percobaan untuk sapi perah, penggunaan azolla 1.5 – 2 kg/hari dapat meningkatkan produksi susu sebesar 15%.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukan Domba, Kambing & Sapi Potong
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : http://azollamagelang.blogspot.com/2013/09/azolla-microphylla-pakan-kambing-sapi.html

Usaha Budidaya Azolla Microphylla

 photo azolla_microphylla_1.jpg photo azolla_microphylla_1.jpg photo azolla_microphylla_1.jpg

Usaha Budidaya Azolla Microphylla

Azolla merupakan genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini, salah satu spesiensya adalah Azolla mirophylla. Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan alga biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla baik digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau untuk tanaman. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari. Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein yang tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.

Meski sudah populer sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani membudidayakan dan memanfaatkan tanaman azolla (Azolla microphylla) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pakan ikan. Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Manfaat Azolla

1. Pengganti Pupuk Kimia

Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5%, Phosphor (P) 0,5 - 0,9% dan Kalium (K) 2 - 4,5K. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1%, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6%, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26% dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16%. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.

Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.

2. Pakan ternak dan ikan

Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25%, lemak 7,5%, karbohidrat 6,5%, gula terlarut 3,5% dan serat kasar 13%. Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.

Berdasarkan kajian di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet.Di saat harga pupuk, pakan ternak dan pakan ikan mahal seperti saat ini, tak ada salah bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan usaha yang secara finansial cukup menguntungkan. Kata yang paling tepat adalah usaha budidaya Azolla baik untuk dibisniskan.

Sumber :  http://www.wirausahaimpian.com/2013/09/usaha-budidaya-azolla-microphylla.html

AZOLLA MICROPHYLLA KECIL UKURANYA BESAR MANFAATNYA

hari pertama

AZOLLA MICROPHYLLA KECIL UKURANYA BESAR MANFAATNYA

Sebelum saya mengerti apa dan bagaimana Azolla,awalnya saya budidaya ikan lele,dan ternyata memang benar dengan apa yg saya baca lewat blog2 yg memuat tentang budidaya ikan lele.pakan adalah termasuk faktor utama yg sangat mempengaruhi keuntungan dalam produksi selain faktor pengelolaan kolam dan ikan.
 
Semakin kita bisa mengurangi ketergantungan dengan pakan(pelet)pabrikan yg semakin hari semakin melambung harganya,tentunya semakin besar peluang keuntungan kita dalam budidaya ikan,misalkan dalam masa produksi kita membutuhkan total pakan 100kg, jika 50kg pakan separuhnya kita dapatkan dari pakan alami yg bisa kita dapatkan dari sekitar kita,tentunya yg protein dan kandungan vitaminya tidak kalah dengan pakan pabrikan,pasti lebih besar peluang keuntungan kita jika di banding 100% produksi kita menggunakan pakan buatan pabrik.setelah saya browsing untuk mencari aneka pakan alternatif untuk lele,dan saya mencoba satu persatu,ternyata adalah AZOLLA MICROPHILLA yang menjadi solusi terbaik bagi saya.karena Azolla  
(1)berprotein tinggi,kaya akan vitamin sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan ikan.
(2)sangat mudah kita budidayakan.
(3)sangat cepat berkembang biak.
(4)menyehatkan lingkungan sekitar
(5)dapat digunakan sebagai pakan unggas
(6)dapat digunakan sebagai pupuk bagi tanaman.

 
 
 

Nah..!!!maka dari itu saya sarankan bagi teman2 yg juga budidaya ikan,unggas dan tanaman,tidak ada salahnya jika mencoba membudidayakan Azolla microphylla agar kita bisa menghemat biaya produksi.
     
hari ke lima

AZOLLA MICROPHYLLA
Apa itu Azolla???
Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air.

Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla.
Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein.

Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak 15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.
Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.


Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.
Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak 70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari 0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.

kolam azolla microphylla
 Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.
Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?
Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.
Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.
Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.
Seorang petani di Kyushu, Jepang T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.
International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap 3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi). Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China).

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama. Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern)
Sumber : http://doelghofoer.blogspot.com/

Rabu, 05 September 2012

Pengalaman Budidaya Azolla microphylla di Medan

Azolla Microphylla




  • ShareThis
Sudah dua bulan ini kami memelihara ikan patin dan gurame lagi di kolam belakang yang sudah lama tak terpakai. Awalnya kami memberikan pelet ikan sebagai makanannya, tapi kok rasa-rasanya kurang puas ya kalau dikasih pelet melulu (selain biayanya juga lumayaaannn hehe). Kadang-kadang kami masukkan juga kangkung ke dalam kolam supaya ikannya cepat besar. Trus timbullah niat pengen coba pakan ikan organik yang dibuat sendiri dari kotoran hewan, tapi kemudian ada seorang teman jejaring sosial yang biasa saya panggil om Dody yang merekomendasikan Azolla Microphylla sebagai pakan ikan. Selain bisa dibudidayakan sendiri, yang artinya bisa menghemat pengeluaran pakan, katanya nutrisinya juga lebih bagus daripada pakan organik lainnya. Ya sudah, karena penasaran dan tertarik, akhirnya saya cari tahulah ini Azolla Microphylla dari penyedianya langsung, soalnya yang pernah saya dengar itu cuma Azolla Pinnata yang biasa dipelajari saat belajar Biologi di SMA dulu.
Sekadar informasi, Azolla adalah satu-satunya genus paku air yang mengapung dari suku Azollaceae (yang ini asli modal copas hehe, soalnya dulu belajar Biologi banyakan lupa hapalannya). Biasanya dia akan bersimbiosis dengan bakteri biru-hijau bernama Anabaena Azollae, yang kemudian mengikat nitrogen langsung dari udara. Selain itu, nilai nutrisi yang terkandung di dalamnya terdiri dari kadar protein tinggi antara 24-30%, kadar asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan konsentrat dedak, jagung, dan beras pecah. Itulah sebabnya mengapa Azolla Sp. begitu potensial sebagai pupuk hijau dan memberikan hasil panen yang tinggi. Umumnya tingkat laju pertumbuhan tanaman Azolla pada kondisi optimal bisa mencapai 35% setiap harinya. Selain untuk pupuk hijau, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan.

Nah, yang biasa kita jumpai di sawah-sawah itu namanya Azolla Pinnata, berbeda dengan Azolla Microphylla yang sedang kita bahas ini. Meskipun bentuknya rada-rada mirip (yah, namanya juga sodaraan), Azolla Microphylla ternyata memiliki beberapa keunggulan dibandingkan enam saudaranya yang lain. Dari segi volumenya, Azolla Microphylla bisa tumbuh lebih menebal dan bertumpuk. Selain itu nutrisi yang terkandung di dalamnya juga lebih baik. Ikan yang diberi Azolla Microphylla katanya selain cepat besar dan gemuk, kandungan proteinnya juga berlipat. Untuk tambahan informasi terkait pupuk, bisa dibaca di webnya Batan.
Setelah mengerti sedikit-sedikit tentang Azolla Microphylla, dan ternyata budidayanya juga ga terlalu sulit bin ribet, eng ing eng… akhirnya datang jugalah si AzoMic ini ke rumah kami tanggal 14 Juli lalu. Kondisinya saat itu sebagian masih segar dan hijau, sebagian lagi sudah mulai coklat, mungkin karena stress setelah melalui perjalanan jauh lewat udara.

Tempat budidaya: Cukup menggunakan wadah kotak plastik, box kayu, atau kolam terpal buatan sendiri, yang penting nggak mudah lapuk. Kalau punya lahan, bisa pakai kolam tanah. Bagi yang pakai kolam non-tanah, kalau bisa dibuat juga water level untuk kontrol air. Ini sangat berguna ketika musim hujan karena air di dalam kolam akan penuh. Dengan adanya kontrol air, air akan keluar secara otomatis jika melewati batas level ketinggian. Caranya cukup buat saja lubang dua atau tiga buah di dinding kolam.
Saya sendiri menggunakan kotak kayu berlapis plastik, bekas kolam ikan laga alias ikan Cupang (kalau di Medan nyebutnya ikan laga).

Media: Saya menaburkan kompos + pupuk kandang (sesuai saran), baru diisi air. Sebenarnya lebih banyakan komposnya sih, pukannya cuma sedikit. Airnya yang saya gunakan air kolam ikan yang agak hijau.
Awalnya karena saya belum terlalu paham, saya masukkan kompos dan pukannya kira-kira saja, tapi ternyata mungkin kurang tebal dan airnya terlalu tinggi (karena tadinya tinggi air boleh antara 5cm-20cm). Lalu supaya hemat tempat, saya pikir jika dibuat bertingkat jadinya lebih praktis, karena kebetulan wadahnya memang bertingkat, jadilah seperti gambar di bawah ini hihi…


BEFORE: Azolla Microphylla dalam kolam rendah, airnya terlalu tinggi, medianya terlalu tipis, dan kurang kena sinar matahari (klik foto untuk memperbesar)
Ini tampilan AzoMic dari dekat saat sampai, setelah ditebar di kolam.
Azolla Microphylla dari Dekat
Penampakan dari dekat ketika sampai (klik foto untuk memperbesar)

Azolla Microphylla Sakit
Dua hari kemudian, AzoMic saya banyak yang tenggelam dan yang mengapung warnanya ada yang coklat dan butek. Tampilannya seperti ini nih:
Azolla Microphylla Sakit
BEFORE: Tampilan AzoMic yang sakit. Warna coklat dan sebagian tenggelam (klik foto untuk memperbesar)

Setelah bertanya pada pak Sebastian, beliau bilang kondisi seperti ini karena kurang kena cahaya matahari. Lalu beliau menyarankan untuk dikurangi airnya dan ditambah medianya, lalu dipindah ke lokasi terbuka yang terkena cahaya matahari langsung, plus diberi tambahan nutrisi berupa pupuk P. Bisa juga ditambahkan lumpur hijau dari dasar kolam kalau sedang membersihkan kolam ikan.

Langkah Penanganan
Akhirnya saya langsung terapkan saran beliau. Saya keluarkan AzoMic dari kolam (taruh di ember dulu). Lalu air di kolam AzoMic saya kurangi sampai hanya setinggi 5cm dari media. Untuk medianya, saya tambahkan kompos sampai cukup tebal, saya rasa sekitar satu buku jari lebih dikit, kurang lebih 3cm tebal medianya. Setelah itu saya masukkan lagi si AzoMic. Yang coklat-coklat kering saya remas-remas, begitu juga dengan yang tenggelam, tujuannya agar sporanya lepas dan menyebar.

Lalu bak kolamnya saya letakkan masing-masing di tempat yang tidak terhalang sinar matahari, jadi tidak bertingkat lagi, tapi tidak saya letakkan di lapangan terbuka langsung sih, masih di samping tembok, hanya saja sudah tidak ada halangan atap lagi. Tapi kondisi ini membuat kolam tidak mendapat sinar matahari seharian, hanya matahari siang dan sore. Tadinya rencana saya mau diletakkan di atas kandang ayam. Kebetulan di rumah ada kandang ayam yang ga terlalu tinggi, nah atapnya itu cukup ideal untuk tempat kolam AzoMic. Tapi berhubung saya ga sempat-sempat bikin kolam yang lebih ringan beratnya, akhirnya saya sabarkan dulu dengan kondisi yang ada.

Oke, kita lanjut (masih panjang curhatnya hehe…).
Dua hari kemudian, saya lihat di kolam AzoMic ini sudah mulai banyak remahan-remahan AzoMic yang mati tadi pada naik ke atas gitu, sebagian malah sudah mulai hijau lagi, seperti ada buih-buihnya. Mungkin itu bakalan anaknya kali ya…
Trus kebetulan hari itu kami membersihkan kolam ikan, saya panen lumpur ijo deh jadinya. Kalau nguras kolam ikan, biasanya kan suka ada lumpur-lumpur ijo gitu di dasar kolam, sisa-sisa makanannya, kotorannya, dan aneka lumut. Naaah, lumpur itu saya masukkan aja ke kolam AzoMic, satu kolam satu gayung hihi :D
Beberapa hari kemudian, hasilnya sudah seperti gambar di bawah ini.

Sporadis Azolla Microphylla
AFTER: yang seperti buih itu hasil dari remasan AzoMic yang mati

And then…. taraaa… seminggu kemudian AzoMicnya sudah mulai menyebar banyak di tiga kolam (saya buat 3 kolam). Lalu semakin hari semakin banyak, makin memenuhi permukaan kolam, sampai sekarang. Sebagian sudah ada juga yang menebal dan mulai bertumpuk. Kalau saya perhatikan, proses penyebarannya dari mulai setengah bagian kolam sampai seperti foto di kolam 1 bawah ini, cuma sekitar 3 hari. Lumayan cepat saya pikir. Untuk kolam 3 memang masih sedikit karena saat itu yang ditebar memang sedikit juga, sementara yang mati banyak. Di bawah ini adalah foto per tanggal 31 Juli 2012 yang saya ambil sore hari.
Kolam Azolla Microphylla
AFTER: Kolam 1 – Kolam 2 – Kolam 3 per tanggal 31 Juli 2012 (klik foto untuk memperbesar)

Daaaan…anda mungkin juga akan kaget seperti saya bila melihat foto berikut ini. Ini foto yang barusan saya ambil, per tanggal 1 Agustus 2012, pagi tadi. Di kolam 1 sudah penuh merata hanya dalam semalam, ajaib ya, alhamdulillaah. Cepat sekali pertumbuhannya. Kolam yang lain juga sama, mulai penuh, kecuali kolam 3 yang masih sedikit. Rencana akan saya tebar pisah sebagian dari kolam 1 ke kolam 3. Hmm…sepertinya perlu buat kolam baru nih!
Kolam Azolla Microphylla Penuh
Per tanggal 1 Agustus 2012 – Kolam Azolla Microphylla Penuh

Dari cerita-cerita yang panjang ini, sebenarnya kesimpulannya sangat singkat huhuhu…banyakan curhatnya ya…Berdasarkan yang saya alami, AzoMic ini ternyata memang suka sekali media dan air yang kaya nutrisi. Sebisa mungkin tambahkan nutrisi berupa lumpur kurasan air kolam ikan atau pupuk P.

Untuk poin pentingnya (ini khusus sharing pengalaman budidaya di kolam kecil):
  • Usahakan media kompos dan pupuk kandangnya setinggi minimal 3 cm, jangan pakai tanah. Pukan kambing lebih bagus lagi kalau ada.
  • Usahakan tinggi airnya minimal 5cm atau tidak lebih dari 10cm dari media
  • Menggunakan air kolam ikan hasilnya lebih efektif dibandingkan air biasa karena sudah kaya dengan nutrisi
  • Diletakkan di tempat yang kena cahaya matahari langsung lebih efektif
  • Penambahan nutrisi secara berkala akan membuat penyebarannya lebih banyak dan bertumpuk
  • Jika ada, tambahkan lumpur hijau dari dasar kolam saat kita menguras kolam ikan kita
  • Penambahan pupuk P juga lebih bagus lagi (cuma yang ini saya belum coba, nanti mau coba juga)
Kalau ada tambahan lainnya atau ada yang perlu dikoreksi, silakan :)
Semoga bermanfaat!

Update 28 Agustus 2012
AzoMic kami berkembang semakin pesat. Hampir setiap hari (maksimal 3 hari sekali) AzoMic sudah bisa dipanen. Sebagian saya tebar langsung ke kolam ikan untuk pakan dan ternyata ikannya memang cepat gemuk. Ikan gurame saya yang tadinya pucat sekarang warnanya lebih cerah cling cling hehe… Ikan patinnya juga rakus makan azolla. Sudah hampir 3 minggu ikan kami free pelet sekarang. Karena pertumbuhan Azolla ini sangat cepat, maka akhirnya secara tak langsung kolam ikannya juga berfungsi sebagai kolam budidaya azolla. Saking cepatnya pertumbuhan si AzoMic ini, saya sampai kewalahan mau di kemanain itu azolla. Akhirnya atas saran seorang teman, azollanya saya jadikan pupuk untuk tanaman, dijadikan kompos dan POC (detilnya menyusul di postingan yang akan datang).

Kolam Budidaya Azolla
AzoMic di kolam ikan (sebelum dipanen)

Panen Azolla Microphylla
Panen Azolla

NB: Bagi yang di Medan, kalau ada yang mau bibit Azolla Microphylla ini, bisa hubungi saya, siapa tahu lagi ada indukannya, jadi tidak perlu order ke luar kota dengan ongkos mahal

Sumber : http://dkwek.com/1351/budidaya-azolla-microphylla/

Rabu, 22 Agustus 2012

Bibit Azolla Gambiran

Kamis, 09 Agustus 2012

Tanaman Azolla Pengganti Pupuk Urea



TANAMAN air jenis Azolla, jika dibiarkan tumbuh di lahan sawah dapat menjadi pupuk alami pengganti urea. Karena itu pemanfaatan Azolla secara terus menerus setiap musim tanam padi, dapat mengurangi penggunaan pupuk urea atau pupuk nitrogen buatan pabrik.
 
Dengan demikian biaya produksi pertanian dapat ditekan, sehingga keuntungan petani meningkat. Tapi sayang, petani yang tidak mengerti manfaat Azolla malah menganggapnya sebagai gulma dan membuangnya. Menurut Peneliti Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM, Dr Ir Ngadiman MSi, kemanfaatan Azolla ini lantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara.
 
Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhan. “Jumlah nitrogen yang diikat Azolla melebihi kebutuhannya sendiri. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain. Selain menghemat pupuk, tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang sekian lama,” ujar Ngadiman.
 
Dijelaskan, Azolla adalah tanaman paku air yang mengapung di lingkungan perairan seperti kolam, danau, saluran, sawah dan sebagainya. Warna daunnya hijau, tapi pada kondisi yang kurang baik (akibat suhu lingkungan terlalu tinggi) warna daun berubah keku-ningan hingga kecoklatan. Dalam satu tangkai terdiri dari 3-4 helai daun berukuran kecil dan akarnya menggantung dalam air.
 
Ngadiman mengaku pernah melakukan penelitian sekitar tahun 1989-1990 dan menemukan manfaatnya sehingga membuat Azolla booming. Namun setelah itu lambat laun meredup dan Azolla nyaris dilupakan petani sampai sekarang. Berdasarkan penelitiannya, Azolla mampu mengganti kebutuhan urea antara 40-50 persen setelah Azolla digunakan selama 5 musim tanam berturut-turut.
 
Sayangnya, penelitian yang dilakukan Ngadiman hanya sampai pada 5 kali musim tanam. “Kalau penelitian tersebut diteruskan, saya yakin suatu saat akan ketemu angka dimana pemakaian urea dapat ditiadakan sama sekali karena tergantikan oleh Azolla,” tandasnya. Azolla dapat dikembangbiakkan seperti tanaman pada umumnya.
 
Untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi, benih Azolla sebaiknya ditebar ke lahan dua hari setelah bibit padi ditanam. Sedangkan benih Azolla yang ditebar adalah benih yang sudah berusia 2 minggu. Dengan cara itu, pada saat padi berusia 21 hari, tanaman Azolla sudah tumbuh sesak meme-nuhi seluruh celah di antara batang-batang padi.

“Dengan demikian tak ada lagi ruang yang tersisa untuk hidupnya rumput atau gulma. Ini akan menghemat biaya untuk menyiangi gulma. Bagi petani yang tidak ingin repot, biarkan saja Azolla tumbuh seperti itu manfaatnya sudah terasa,” katanya.

Tapi akan lebih baik lagi, menurut Ngadiman, jika Azolla tersebut dibenamkan ke dalam tanah. Caranya, kering-kan dulu lahan sehingga Azolla mengendap di permukaan tanah. Setelah itu Azolla dicampur atau dipendam dalam tanah. Ini lebih efektif karena Azolla tersebut akan terurai dan diikat oleh partikel-partikel tanah. Sedangkan jika hanya dibiarkan di permukaan tanah, sebagian nitrogen pada Azolla akan me-nguap.

Berdasarkan penelitian itu pula diketahui, Azolla mengandung 22-37 persen protein dari setiap berat kering. Tanaman ini juga tidak beracun bagi ternak, unggas dan ikan. Sehingga Azolla dapat dimanfaatkan untuk pupuk berbagai tanaman, pakan ternak dan ikan. (Aksan Susanto)

Sumber : http://pertanian-tasurun.blogspot.com/2011/06/tanaman-azolla-pengganti-pupuk-urea.html