..Selamat membuka blog ini Mas Anas Nurul Yaqin Merakurak Tuban...

Senin, 16 April 2012

Tanaman Air Azolla Dijadikan Pengganti Urea

image

















Contoh bibit tanaman paku air mini jenis Azolla ini, diwadah dalam botol air. Ini sengaja dibawa Subandi (tengah) untuk dijadikan bahan propaganda kepada para Kelompok Tani Sumber Rezeki Desa Purworejo Kecamatan Wonogiri Kota. (SM CyberNews/ Bambang)



Tanaman Air Azolla Dijadikan Pengganti Urea


Wonogiri, CyberNews. Setelah berhasil membuat pupuk organik dan pakan ternak dari limbah produk pertanian, Asosiasi Petani Organik (APO) Kabupaten Wonogiri, kini melakukan eksperimen baru pembudidayaan tanaman air jenis Azolla. Fungsinya untuk dijadikan bahan pupuk organik pengganti urea.

Pasalnya, tanaman air Azolla ini memiliki kandungan zat nitrogen (N) yang tinggi, yang mampu menyuburkan tanaman layaknya pada fungsi pupuk kimia jenis urea. Anggota APO Kabupaten Wonogiri, Subandi Pr SPd, mengatakan, tanaman Azolla oleh para petani pedesaan sering dinamakan tumbuhan kambangan air, atau tumbuhan ganggang air atau mripat iwak (mata ikan).

Dinamakan kambangan, karena tanaman air ini berposisi selalu mengambang di permukaan air. Utamanya di lahan persawahan petani, kolam, selokan atau genangan air yang tak kunjung kering. Disebut sebagai tanaman air 'mata iwak' karena daunnya ada gurat-gurat seperti mata ikan. ''Ini termasuk tumbuhan liar yang hidupnya memerlukan media air,'' ujar Subandi yang juga Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jateng ini.

Azolla merupakan tanaman paku air ukuran mini, sekitar 3 sampai 4 sentimeter yang bersimboosis dengan Cynobactena penafiksasi N2, dan menyebabkan Azolla punya kualitas nutrisi yang baik. Azolla basah, disukai ikan, itik dan ternak besar seperti kambing, sapi atau kerbau. Azolla kering, dapat dijadikan bahan untuk pembuatan pakan ternak organik.

Orok-orok

Di daratan China dan Vietnam, Azolla dijadikan sumber N untuk menyuburkan tanaman padi di sawah. Sebagai jenis tanaman paku air, Azolla berkembang di benua Asia, Amerika maupun di Eropa. Tanaman air ini berguna untuk pengganti urea, menekan tumbuhan gulma di sawah, juga dapat dijadikan tanaman hias dan tanaman pengontrol nyamuk. Kandungan zat N-nya mencapai 1,96 sampai 5,30 persen.

Tanaman Azolla dibiarkan tumbuh menyubur di lahan sawah yang akan diolah. Saat dilakukan pembajakan sawah, tanaman Azolla akan terbalik tertimbun tanah. Fungsinya sebagai pupuk pengganti tanaman 'orok-orok' yang dulu banyak dimanfaatkan para petani untuk penyubur sawah.

Kata Subandi, pada persawahan yang sebelumnya ditanami Azolla, maka kebutuhan zat N untuk tanaman padi yang biasa mengandalkan pupuk urea, dapat digantikan oleh Azolla. ''Sehingga petani tidak perlu membeli pupuk urea lagi, tapi cukup menggantinya dengan tanaman Azolla,'' tutur Subandi. Eksperimen pemanfaatan Azolla di Kabupaten Wonogiri ini, mendapatkan bimbingan teknis secara langsung dari para peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Pada lahan tanaman padi sawah seluas 1.000 meter persegi, yang biasanya memerlukan paling tidak 50 Kg urea, kiranya dapat digantikan cukup hanya memakai 5 Kg saja. Sebab kebutuhan zat N untuk tanaman padi, dapat digantikan dengan Azolla. Pembidayaan Azolla ternyata cukup mudah dilakukan.

''Ini saya coba membudidayakan di kolam ukuran 2 x 3 meter. Hasilnya cukup baik, tanaman Azolla cepat berkembang memenuhi permukaan air,'' kata Subandi. Eksperimen di Kabupaten Wonogiri ini, merupakan yang pertama di Provinsi Jateng.(Bambang Pur)

( Bambang Purnomo / CN15 / JBSM )

Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/03/24/81051

Kenal Lebih Dekat dengan Azolla



Kenal Lebih Dekat dengan Azolla


Azolla adalah tanaman air yang berdaun kecil-kecil dan pada saat-saat tertentu tumbuh sangat banyak. Warna daunnya bisa sangat hijau dan tebal. Azolla bukan tanaman air sembarangan. Azolla memilikiSaya kemampuan yang tidak dimiliki oleh tanaman air lain, yaitu menambat nitrogen (N) dari udara.

Udara yang kita hirup > 75%nya adalah N. Sayangnya N ini tidak bisa langsung diserap oleh tanaman. Azolla – lah yang menambat N udara menjadi N yang bisa diserap oleh tanaman. Kandungan N di dalam Azolla sangat tinggi untuk ukuran bahan organik, bisa mencapai 4 – 5% dari berat keringnya. Bahan organik yang lain umumnya hanya < 2%.

Kemampuan Azolla untuk menyuburkan tanaman sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Orang-orang China dan Vietnam sudah sejak abad 15 dan 17 sudah memanfaatkan Azolla untuk pupuk tanaman. Kini Azolla telah tersebar di penjuru bumi. Di Indonesia, Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.

Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Manfaat Azolla:
1. Berperan sebagai mulsa, terutama saat kekeringan dan mengurangi pertumbuhan gulma.
2. Pakan ternak, unggas, dan ikan
3. Sebagai filter air dari pencemaran logam berat.

Pupuk Organik Azolla
Azolla sebagai pupuk organik, dapat diberikan dalam bentuk segar, kering, maupun kompos.
Cara pembuatan kompos Azolla:
100 kg azolla segar dan 5 kg dedak dicampur merata + 100 cc dekomposer (Superdegra) dilarutkan dalam 10 liter air, kemudian disiramkan merata dalam tumpukan bahan kompos. Tumpukan bahan kompos ditutup dengan (karung goni). Setelah 4 hari, pupuk azolla selesai difermentasi menjadi kompos.

Perbanyakan Azolla
Azolla dapat diperbanyak melalui beberapa cara, antara lain Monokultur, Tumpangsari dengan Padi, dan Tumpangsari Padi-Ikan-Azolla-Bebek-Sapi.

Perbanyakan dengan Monokultur:
1. sebanyak 2,5 t/ha pupuk kadang ditabur merata dalam petakan
2. setelah 5-7 hari kemudian, air dimasukkan dalam petakan dengan ketinggian 10-20 cm
3. sebanyak 25 kg/ha SP-36 ditabur merata, dan setiap 4-5 hr sekali dtaburi lagi.
4. Setelah 20-25 hari dari penyebaran, diperkirakan azolla telah mencapai 10-12,5 t/ha = 67-83 kg urea/ha.

Perbanyakan dengan cara tumpangsari dengan padi
1. Perbanyakan azolla sebelum benam
Setelah tanaman padi berumur 3-5 hari, sebanyak 2t/ha azolla ditebar secara merata sekitar tanaman padi. Diperkirakan, setelah berumur 15-20 hari dari sebar, dapat mencapai 7,5-10 t/ha azolla = 50-67 kg/ha urea. dan benam. Jika azolla dibiarkan panen sampai usia 25-30 hari dari sebar, diperkirakan dapat mencapai 12,5-15 t/ha azolla = 83-100 kg/ha urea.

2. Pembenaman azolla secara langsung
Pembenaman azola dapat langsung bersamaan dengan dengan saat pengolahan tanah pertama, pengolahan tanah kedua, atau dibenamkan setelah tanam padi yaitu bersamaan saat penyiangan padi.

Sebanyak 10-20 t/ha azolla dibenamkan ke dalam tanah.
Pembenaman saat pengolahan tanah:
1. Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit
2. Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam
3. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.

Perbanyakan dengan tumpangsari padi-ikan-azolla-bebek-sapi
Pengembangan sistem usaha tani terpadu yang berbasis pertanian organik di lahan sawah, yaitu dengan memadukan tanaman padi padi-ikan-azolla-bebek-sapi secara sinergis.

-dari berbagai sumber-

Sumber : http://www.paketri.com/2011/03/kenal-lebih-dekat-dengan-azolla/

Rabu, 04 April 2012

Hasil Penelitian Tepung Azolla sebagai alternatif pakan Domba






PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG AZOLLA MICROPHYLLA DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN DOMBA LOKAL JANTAN
Oleh :
Achmad Abror Anshori
ABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG Azolla microphylla DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN DOMBA LOKAL JANTAN

Produktivitas domba dapat ditingkatkan dengan pemberian pakan berkualitas dan mempunyai kandungan nutrien yang cukup. Ransum yang diberikan pada ternak domba pada umumnya terdiri dari hijauan sebagai pakan utama dan konsentrat sebagai pakan penguat. Untuk mengurangi proposi penggunaan konsentrat, digunakan pakan alternatif berupa tepung Azolla microphylla yang mempunyai kandungan nutrien cukup baik, mudah dikembangkan dan tidak bersaing dengan manusia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung Azolla microphylla dalam ransum terhadap performan domba lokal jantan.

Konsentrat yang digunakan yaitu konsentrat komersial BC 132.
Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu di Mini Farm Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang berlokasi di Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar.

Materi yang digunakan adalah domba lokal jantan sebanyak 12 ekor dengan bobot badan rata-rata 14,98+0,68 kg dibagi dalam empat macam perlakuan dan tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari satu ekor domba.

Perlakuan yang diberikan masing-masing adalah
P0 (rumput lapang 60% + konsentrat 40%),
P1 (rumput lapang 60% + konsentrat (95% konsentrat + 5% tepung Azolla microphylla)),
P2 (rumput lapang 60% + konsentrat (90% konsentrat + 10% tepung Azolla microphylla)),
P3 (rumput lapang 60% + konsentrat (85% konsentrat + 15% tepung Azolla microphylla)).

Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan dan feed cost per gain. Data konsumsi dan konversi pakan dianalisis variansi Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah, pertambahan bobot badan harian dianalisis dengan analisis kovariansi, sedangkan untuk feed cost per gain dilaporkan secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata dari keempat macam perlakuan yaitu P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut untuk konsumsi 711,83; 730,15; 754,29; dan 763,46 gram/ekor/hari, pertambahan bobot badan harian 41,07; 51,19; 53,57; 60,12 gram/ekor/hari, konversi pakan 17,48; 14,65; 14,08; dan 12,73 dan feed cost per gain Rp. 12853.79/kg, Rp. 21683.10/kg, Rp. 28300.69/kg, dan Rp. 32333.57/kg.

Hasil analisis variansi untuk konsumsi dan konversi pakan dan analisis kovariansi untuk pertambahan bobot badan harian dari keempat macam perlakuan masing-masing adalah berbeda tidak nyata.

Kesimpulan penelitian ini adalah Penggunaan Tepung Azolla microphylla sampai taraf 15% dari total konsentrat dalam ransum tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan harian (PBBH), dan konversi pakan akan tetapi dapat meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan berat badan harian (PBBH) domba lokal jantan yang dipelihara selama penelitian.

Kata kunci: tepung Azolla microphylla, domba lokal jantan, performan.

Sumber : http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=4908

Ternak Itik, Ternak Sapi, Ternak Cacing Merah dan Budidaya Azolla







Ternak Itik, Ternak Sapi, Ternak Cacing Merah dan Budidaya Azolla

Anak itik yang disebut titit dapat dibeli 200 ekor dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 600.000,00. Pakan untuk 2 bulan sebanyak 2 kintal (jenis pakannya bisa ditanyakan ke toko pertanian). Harga untuk 2 kintal (200kg) pakan itu adalah Rp 800.000. Satu ton = 1000kg. Satu ton = 10 kintal. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 200 ekor x Rp 18.000,00 = 3,6 juta. Bila keuntungan dipotong modal maka laba bersih adalah 3,6 – 1,4jt = 2,2jt. Keuntungan 2,2 juta dalam waktu sebulan cukup menarik. Modal 1,4jt diambil dari 600rb + 800rb.

Peternakan itik sangat menarik terutama bila ada lahan untuk memeliharanya (kandang) dan ada penadah yang membeli itik dewasa ini.

Pakan yang menarik untuk itik adalah azolla pinnata. Azolla pinnata ini biasa tumbuh di kolam atau di sawah. Azolla dapat dijadikan pakan itik. Azolla bahkan dapat dijadikan (campuran) pakan domba dan sapi. Bila seorang peternak mempunyai satu hektar (700 bata), ia dapat memagar lahannya untuk peternakan itik. Itik dapat berkeliaran di lahan itu.

Bila azolla digunakan sebagai campuran pakan, azolla dapat dicampurkan sebanyak 15% dari total pakan. Dengan begitu, 30kg (15% dari 200kg) azolla dapat dikonsumsi sebagai campuran dari total pakan 170kg (85% dari 200kg). Dengan demikian total pakan hanya sebesar Rp 680.000,00 (85% dari Rp 800.000,00).

Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto (http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/manfaat-tanaman-azolla.html) kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.

Selain itu, dapat pula ditambahkan pakan itik berupa cacing (http://mastekop.blogspot.com/2011_01_01_archive.html). Cacing dapat dibudidaya dari kotoran sapi. Satu ekor sapi dapat membuang kotoran (feses) sebanyak 20kg per hari. Bila kotoran cacing ini ditampung di sebuah kolam dan di dalamnya ditanam cacing merah (redworm), maka cacing merah akan berkembang biak. Menurut blog di atas, cacing ini akan membuat kotoran sapi menjadi tidak bau. Hanya saja mesti diperhatikan apakah cacing ini senang dengan tanah berair ataukah hanya lembab saja.

Perhitungan berkaitan dengan cacing merah dan azolla di atas, sangat menarik untuk investasi itik. Tetapi perhitungan berikut belum menggunakan variabel cacing merah, (kotoran) sapi dan azolla sebagai pakan.

Tanpa variabel cacing merah, (kotoran) sapi, dan azolla maka seorang peternak dengan lahan satu hektar dapat memelihara 2000 ekor titit dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 6000.000,00. Bila dikatakan harga pakan Rp 8.000.000,00 maka keuntungannya dapat berlipat. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 2000 ekor x Rp 18.000,00 = 36 juta. Bila modal adalah harga 2000 ekor anak itik (titit) Rp 6jt dan harga 20 kintal pakan adalah 8.000.000,00. Keuntungan dipotong modal akan menghasilkan laba bersih sebesar 36 – 8jt = 28jt. Keuntungan 28jt dalam waktu dua bulan sangat fantastis.

Pakan untuk 2 bulan di atas tanpa mengandalkan azolla pinnata dan cacing merah. Bila peternak juga mempunyai sapi, cacing dan azolla; maka keuntungan dari efisiensi pakan dapat ditingkatkan. Harga untuk pakan itu dapat ditekan.

Tentu saja hal ini perlu dukungan dari sisi penjualan, dan modal lahan yang strategis. Lahan strategis ini ialah adanya aliran air. Mungkin pula aliran air ini dapat dibantu dengan pompa hidram.

Sumber : http://iswara.staf.upi.edu/2010/12/01/ternak-itik/


Catatan koreksi dari Admin (Dian Kusumanto) :

Sebenarnya bukan Azolla pinnata yang dimaksud di tulisan Saudara Iswara di atas, tetapi Azolla microphylla. Kita tahu bahwa Azolla pinnata itu pertumbuhan dan perkembangannya tidak seperti Azolla microphylla yang bisa bertumpuk-tumpuk sampai setebal 5 cm, sedangkan Azolla pinnata hanya selapis tipis di permukaan air, sehingga tidak terlalu banyak hasilnya.


Sekarang sudah ada penyedia bibit Azolla dari Purwokerto

Order Benih Azolla Randi Farm

Kami menerima order benih Azolla microphylla yang bisa anda budidayakan di daerah anda. Azolla kami paketkan dan kami kirimkan ke daerah anda dengan kiriman cepat satu-dua hari. Kami menjual dengan harga Rp 35.000 belum dengan ongkos kirim. Bagi yang berminat silahkan hubungi kami di:
HP : 085647613701 (yusuf randi)
Email : randifarmpurwokerto@gmail.com





HUBUNGI KAMI

Hubungi kami jika ada pertanyaan tentang sistem kami (hidroponik dan aquaponik) , tentang produk kami, peluang kerja sama, saran dan kritik di
HP : 085 647 613 701 (Yusuf)
Email : randifarmpurwokerto@gmail.com
Facebook : Randi Farm Purwokerto
PIN BBM : 227881CE

Sumber : http://randifarm.blogspot.com/2011/12/order-benih-azolla-randi-farm.html


Pakan Lele yang murah dari Azolla

Pemberian azolla sebagai cemilan pakan dalam bentuk kering


Kami akan memberikan informasi terbaru dari Randi Farm hasil analisa dan percobaan yang ada di lapang terkait dengan azolla. Pemberian azolla kepada ikan-ikan lele sebaiknnya dalam bentuk kering, jangan diberikan dalam bentuk basah. Hal ini penting dilakukan mengingat kadar air yang tinggi pada azolla yang jika dimakan ikan lele hanya akan mengeyangkan saja tetapi azolla yang dimakan proteinnya rendah. Alhasil ikan lele justru akan mengalami keterlambatan pertumbuhan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?? karena azolla yang basah dengan kandungan protein rendah jika dimakan oleh ikan, maka ikan akan merasa kenyang dengan cepat dan lama untuk lapar.Hal ini karena adanya serat seperti mekanisme kita jika memakan sayuran. Sehingga pakan pelet yang kita berikan justru akan sedikit dimakan oleh ikan lele.
Kemudian pemberian azolla secara terus menerus juga kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Walaupun ikan akan sehat tapi terkait dengan tinggkat perkembangan justru akan memperlambat.

Mengapa hal ini bisa terjadi?? pemberian azolla secara terus menerus dalam keadaan basah menyebabkan ikan lele setiap saat akan terpenuhi kebutuhan pakannya. Saat ikan lele lapar sedikit saja maka azolla akan dimakan sedikit demi sedikit. Dan kita tau azolla basah kandungan proteinnya rendah. Jika ikan lele sudah kenyang hanya dari azolla. Sehingga jika kita memberikan pakan pelet dengan protein tinggi, alhasil pakan pelet kita tidak dimakan. Namun jika kita tangkap dan kita seser ikan kita. Kita akan mendapatkan ikan lele dengan perut yang gendut tapi miskin protein.



Sehingga kami simpulkan pemberian azolla dalam bentuk basah kurang baik untuk pertumbuhan,sebaiknya diberikan dalam bentuk kering dengan protein yang tinggi. Namun diberikan ke dalam kolam klinik untuk menampung ikan yang sakit justru bisa sebagai diet yang baik untuk ikan lele. Ikan yang sakit memerlukan hijauan untuk memulihkan pencernaannya. Disinilah peran azolla sebagai pakan ikan yang sedang sakit.

Kesimpulan selanjutnya yaitu pemberian azolla baiknya dilakukan sebelum lele masuk atau perlakuan air kolam ikan selama 3-4 hari. Tujuannya yaitu untuk menetralkan air kolam ikan, menyerap polutan, dan menciptakan pakan alami didalam kolam. Setelah 4 hari dan dirasa air kolam sudah siap, angkat azolla dan pindahkan ke kolam lain, barulah ikan lele kita masukkan ke dalam kolam bekas azolla.

Semoga Informasi Ini Bisa Bermanfaat

Sumber : http://randifarm.blogspot.com/2012/03/pemberian-azolla-sebagai-cemilan-pakan.html

Azolla: Sumber Hara Nitrogen yang Terlupakan

Azolla: Sumber Hara Nitrogen yang Terlupakan

Tanaman air yang kecil-kecil banget

azolla
[http://www.geo.uu.nl/]

Dulu waktu aku masih kecil, aku & teman-temanku sering main di sawah di belakang rumah. Mungkin jarang aku perhatikan, di sawah banyak sekali tanaman yang mengambang di permukaan air. Ada beberapa jenisnya. Setelah aku kuliah baru aku tahu kalau salah satu tanaman air ini sangat bermanfaat untuk padi, yaitu Azolla.

Azolla adalah tanaman air yang berdaun kecil-kecil dan pada saat-saat tertentu tumbuh sangat banyak. Warna daunnya bisa sangat hijau dan tebal.

azolla
[http://www.habitas.org.uk/]

Azolla bukan tanaman air sembarangan. Azolla memilikiSaya kemampuan yang tidak dimiliki oleh tanaman air lain, yaitu menambat nitrogen (N) dari udara. Udasa yang kita hirup > 75%nya adalah N. Sayangnya N ini tidak bisa langsung diserap oleh tanaman. Azolla – lah yang menambat N udara menjadi N yang bisa diserap oleh tanaman. Kandungan N di dalam Azolla sangat tinggi untuk ukuran bahan organik, bisa mencapai 4 – 5% dari berat keringnya. Bahan organik yang lain umumnya hanya < 2%.

Kemampuan Azolla untuk menyuburkan tanaman sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Orang-orang China dan Vietnam sudah sejak abad 15 dan 17 sudah memanfaatkan Azolla untuk pupuk tanaman. Kini Azolla telah tersebar di penjuru bumi.

Annabaena azollae: Kawan karib Azolla yang menambat N

Azolla tidak sendirian dalam menambat N dari udara. Azolla bersimbiosis dengan gangang mikro yang namanya Annabaena azollae. Gangang ini tumbuh dan berkoloni di ruangan di bawah daun. Mereka inilah yang bekerja keras menambat N dari udara.

Annabaena sendiri juga unik. Dia akan menambar N jika memang benar-benar diperlukan. Dalam kondisi miskin hara N di perairan, Annabaena akan menambat N. Tetapi jika di lingkungan air tersebut ada N, dalam bentuk urea misalnya, maka Annabaena tidak/sedikit sekali menambat N.

anabaena
[www.search.com/reference/Anabaena]

Anabaena yang berperan menambat N. Bagian N yang aktif menambat adalah sel yang besar itu, namanya heterocyt. Jika di air terdapat amonium (dari urea), sel-sel heterocyt ini tidak ada, dan Azolla tidak bisa menambat N.

Jadi kalau mau nenanam Azolla di lingkungan sawah, jangan terlalu banyak, atau bahkan sama sekali jangan nemambahkan pupuk urea. Urea akan menjadi amonium dan amoniumlah yang membuat Annabaena tidak mau menambat N.

Pemanfaatan Azolla

azolla
[http://www.wikipedia.com]

Cara sederhana untuk memanfaankan Azolla adalah dengan menanam langsung ke persawahan. Sawah yang digenangi air ditabur bibit Azolla. Azolla yang tumbuh langsung dimanfaatkan untuk tanaman padi.

Cara lain adalah dengan menanam Azolla secara khusus di kolam. Penanaman Azolla perlu tambahan pupuk fosfat. Azolla yang tumbuh subur dapat dipanen secara berkala. Produksi Azolla bisa mencapai 3,8 kg/m2.

Kolam azolla
[http://www.acres-wild.com/]

azolla
[http://www.cfb.ie/]

Biomassa Azolla ini bisa langsung digunakan untuk memupuk tanaman. Langkah yang lebih baik adalah dengan mengkomposkan Azolla. Kompos Azolla memiliki kualitas kandungan hara yang lebih baik dari kompos dari bahan lain. Kompos inilah yang digunakan sebagai pupuk organik.

Azolla kering juga mengandung N yang tinggi, jadi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkaan kandungan N pupuk organik.

Kendala Pemanfaatan Azolla

Azolla sebagai sumber hara yang kaya N sudah sangat lama diketahui. Pertanyaannya, kenapa tidak banyak yang memanfaatkan.

Saya tidak tahu pasti, ini hanya pendapat saya pribadi. Pertama, meskipun tampaknya mudah, menanam Azolla tidak selalu berhasil. Sekitar tahun 2006-08, saya pernah diberi bibit azolla unggul dari Batan. Setelah saya perbanyak sendiri, bibit ini aku berikan ke petani. Ternyata Azolla itu tidak bisa tumbuh lama. Beberapa bulan kemudian sudah habis tak tersisa.

Kedua, produksi biomassa azolla dalam skala besar memerlukan kolam-kolam yang luas. Ini problem tersendiri yang tidak mudah dipecahkan.

Meskipun demikian, menurut saya, Azolla merupakan salah satu sumber N organik yang sangat potensial. Azolla perlu digiatkan kembali di tengah-tengah maraknya penggunaan pupuk organik saat ini. Wallahua’lam.

Sumber : http://isroi.com/2010/07/01/azolla-sumber-hara-nitrogen-yang-terlupakan/