..Selamat membuka blog ini Mas Anas Nurul Yaqin Merakurak Tuban...

Selasa, 06 Oktober 2009

Penelitian Azolla di Faperta UGM Jogjakarta

http://soil.faperta.ugm.ac.id/jitl/7.1%2068-73%20Sudadi.%20Aspek%20Mikrobiologis.pdf

Buku Linus Simanjuntak tentang Azolla :

http://books.google.com/books?id=RFmamJMN2BMC&pg=PA17&lpg=PA17&dq=azolla+microphylla+vietnam&source=bl&ots=lZvmqNvaeG&sig=7EEvOftxHrqXgMkhTvt-R1z5KEk&hl=id&ei=bADMSvH6KaiW6wOYuvCJAw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=8

BEBERAPA PENELITIAN AZOLLA

Di BATAN Indonesia :



Penelitian Azolla (Anabaena Azolae)

Di kawasan Timur, selatan dan Tenggara asia termasuk Indonesia di mana banyak diusahakan padi sawah, salah satu masalah yang dihadapi adalah kesuburan lahan yang berkelanjutan. Hal ini sangat penting karena saat sekarang yang dipacu adalh produksi yang semakin tinggi dari satu jenis tanaman yaitu padi sawah, dengan target kenaikan produksi untuk setiap tahun. Justru pada lahan sawah di kawasan tersebut, bahan organik tanah dan tingkat nitrogen acapkali terbatas. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia. Sumber nitrogen alternatif ini adalah pupuk hijau. Salah satu sumber N altternatif yang cocok untuk padi sawh adalah Azolla.

Azolla adalah paku air mini ukuran 3-4 cm yang bersimbiosis dengan Cyanobacteria pemfiksasi N2. Simbiosis ini menyebabkan azolla mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina dan Vietnam sebagai sumber N bagi padi sawah. Azolla tumbuh secara alami di Asia, Amerika, dan Eropa.


Azolla mempunyai beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azoll rubra.

Kemampuan azolla sebagai sumber penyumbang N

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat yang diseponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) menggunakan 15N menunjuk-kan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70 – 90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah.

Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertum-buhan Azolla adalah 0,355 – 0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginoku-lasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla tersebut ditumbuhkan. Dalam keadaan ini dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa Azolla tumbuh kembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.

Kegunaan :
Sumber N dapat mengganti pupuk urea sampai 100 kg
Pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik
Menekan pertumbuhan gulma
Tanaman hias
Kontrol terhadap perkembangan nyamuk

Hasil penelitian di Batan

Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha.

Aplikasi Azolla untuk menghemat penggunaan pupuk buatan.

Lokasi : Pusakanegara (Pantura)

Perlakuan---------------------------------Produksi padi sawah (ton ha-1)
1. Lapisan Azolla + 50 kg urea----------- 5
2. Lapisan Azolla + 100 kg urea---------- 6
3. Lapisan Azolla + 150 kg urea---------- 6,5
4. Tanpa lapisan Azolla + 150 kg urea---- 6

Kesimpulan: Optimal pada perlakuan No.2, menghemat 50 kg urea per ha.

Cara perbanyakan Azolla :

Buatlah stok Azolla dekat rumah dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya.

Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P ( 1 sendok makan SP-36 per l air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Di lapang petak sawah dibatasi dengan bambu seluas 1m2 seperti ditunjukkan pada gambar 1.

petak I --- 5 hari
petak II --- 10 hari
petak III --- 15 hari
petak IV --- 20 hari

Dengan mengaplikasikasikan Azolla 200 g/m2 :
I. Sampai dengan hari ke-5, Azolla akan berkembang, sehingga permukaan lahan tertutup penuh (batas garis merah)
Hari ke-10, menjadi 2 kali lipat (batas garis biru)
Hari ke-15, menjadi 4 kali lipat (batas garis coklat)
Hari ke-20, menjadi 8 kali lipat , dst.

Cara Menggunakan Azolla :
- Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit
- Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam
- Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.

Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat :
- mengambil N yang hanyut dan menguap
- menahan pertumbuhan gulma

Kandungan unsur hara dalam Azolla

Unsur-----Jumlah

N---------1.96-5.30 (%)
P---------0.16-1.59 (%)
K---------0.31-5.97 (%)
Ca--------0.45-1.70 (%)
Mg--------0.22-0.66 (%)
S---------0.22-0.73 (%)
Si--------0.16-3.35 (%)
Na--------0.16-1.31 (%)
Cl--------0.62-0.90 (%)
Al--------0.04-0.59 (%)
Fe--------0.04-0.59 (%)
Mn--------66 - 2944 (ppm)
Co-------- 0.264 (ppm)
Zn---------26 - 989 (ppm)

Sumber : http://www.batan.go.id/patir/_pert/pemupukan/pemupukan.html

Senin, 20 April 2009

Azolla di India

Azolla di India






Azolla di India

Jumat, 02 Januari 2009

Azolla potensial untuk aneka pakan ternak dan ikan

Azolla potensial untuk aneka pakan ternak dan ikan











Membuat Pakan Pelet dari Azolla

Membuat Pakan Pelet dari Azolla








Azolla: a sustainable feed for livestock

Dari :  LEISA Magazine • 21.3 • September 2005

Azolla: a sustainable feed for livestock


by P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha and S. Rajamony

The demand for milk and meat in India is creating new potential in the profitability of animal husbandry as an occupation. Yet, at the same time, there is a substantial decline in fodder availability. The area under forest and grasslands is decreasing as is the amount of various crop residues available for feed, largely due to the introduction of high yielding dwarf varieties. The shortage of fodder is therefore compensated with commercial feed, resulting in increased costs in meat and milk production. Moreover, as commercial feed is mixed with urea and other artificial milk boosters, it has a negative effect on the quality of milk and the health of the livestock. 

The search for alternatives to concentrates led us to a wonderful plant azolla, which holds the promise of providing a sustainable feed for livestock. Azolla is a floating fern and belongs to the family of Azollaceae. Azolla hosts a symbiotic blue green algae, Anabaena azollae, which is responsible for the fixation and assimilation of atmospheric nitrogen. Azolla, in turn, provides the carbon source and favourable environment for the growth and development of the algae. It is this unique symbiotic relationship that makes azolla, a wonderful plant with high protein content. 

Nutrient content and its impact on growth
Azolla is very rich in proteins, essential amino acids, vitamins (vitamin A, vitamin B12 and Beta- Carotene), growth promoter intermediaries and minerals like calcium, phosphorous, potassium, ferrous, copper, magnesium etc. On a dry weight basis, it contains 25 - 35 percent protein, 10 - 15 percent minerals and 7 - 10 percent of amino acids, bio-active substances and bio-polymers. The carbohydrate and fat content of azolla is very low. Its nutrient composition makes it a highly efficient and effective feed for livestock (see Table 1). Livestock easily digest it, owing to its high protein and low lignin content, and they quickly grow accustomed to it. Moreover it is easy and economic to grow. 


The Natural Resources Development Project (NARDEP), Vivekananda Kendra, carried out trials in Tamil Nadu and Kerala using azolla as a feed substitute. The trials on dairy animals showed an overall increase of milk yield of about 15 percent when 1.5 - 2 kg of azolla per day was combined with regular feed. The increase in the quantity of the milk produced was higher than could be expected based on the nutrient content of azolla alone. Hence, it is assumed that it is not only the nutrients, but also other components, like carotinoids, bio-polymers, probiotics etc., that contribute to the overall increase in the production of milk. Feeding azolla to poultry improves the weight of broiler chickens and increases the egg production of layers. Azolla can also be fed to sheep, goats, pigs and rabbits. In China, cultivation of azolla along with paddy and fish is said to have increased the rice production by 20 percent and fish production by 30 percent. 

Azolla production

Close-up view of an azolla plant. The size of the plants are 1 - 3 cm.

NARDEP has been working on azolla for the last three to four years, studying its potential as a feed  and exploring cost effective methods for the mass multiplication of azolla in farmers’ homesteads.  

.In  our method, a water body is made, preferably under the shade of a tree, with the help of a silpauline sheet. Silpauline is a polythene tarpaulin which is resistant to the ultra violet radiation in sunlight. A pit of 2 x 2 x 0.2 m is dug as a first step. All corners of the pit should be at the same level so that a uniform water level can be maintained.

The pit is covered with plastic gunnies to prevent the roots of the nearby trees piercing the silpauline sheet, which is spread over the plastic gunnies. About 10 - 15 kg of sieved fertile soil is uniformly spread over the silpauline sheet. Slurry made of 2 kg cow dung and 30 g of Super Phosphate mixed in 10 litres of water, is poured onto the sheet. More water is poured on to raise the water level to about 10 cm. About 0.5 - 1 kg of fresh and pure culture of azolla is placed in the water.

This will grow rapidly and fill the pit within 10 - 15 days. From then on, 500 - 600 g of azolla can be harvested daily. A mixture of 20 g of Super Phosphate and about 1 kg of cow dung should be added once every 5 days in order to maintain rapid multiplication of the azolla and to maintain the daily yield of 500 g. A micronutrient mix containing magnesium, iron, copper, sulphur etc., can also be added at weekly intervals to enhance the mineral content of azolla. 


NARDEP method of azolla production 

1. It is important to keep azolla at the rapid multiplication growth phase with the minimum doubling time. Therefore biomass (around 200 g per square meter) should be removed every day or on alternate days to avoid overcrowding 

2. Periodic application of cow-dung slurry, super phosphate and other macro and micronutrients except nitrogen, will keep the fern multiplying rapidly. 

3. The temperature should be kept below 25 °C. If the temperature goes up the light intensity should be reduced by providing shade. If possible, it is best to place the production unit where it is shady. 

4. The pH should be tested periodically and should be maintained between 5.5 and 7. 

5. About 5 kg of bed soil should be replaced with fresh soil, once in 30 days, to avoid nitrogen build up and prevent micro-nutrient deficiency. 

6. 25 to 30 percent of the water also needs to be replaced with fresh water, once every 10 days, to prevent nitrogen build up in the bed. 

7. The bed should be cleaned, the water and soil replaced and new azolla inoculated once every six months. 

8. A fresh bed has to be prepared and inoculated with pure culture of azolla, when contaminated by pest and diseases. 

9. The azolla should be washed in fresh water before use to remove the smell of cow dung.

Using azolla as livestock feed

Azolla should be harvested with a plastic tray having holes of 1 cm2 mesh size to drain the water. Azolla should be washed to get rid of the cow dung smell. Washing also helps in separating the small plantlets which drain out of the tray. The plantlets along with water in the bucket can be poured back into the original bed. When introducing azolla as feed, the fresh azolla should be mixed with commercial feed in 1:1 ratio to feed livestock. After a fortnight of feeding on azolla mixed with concentrate, livestock may be fed with azolla without added concentrate. For poultry, azolla can be fed to layers as well as broilers. 

Though there is no large-scale incidence of pests and diseases in silpauline based production system, pest and disease problems have been noticed during intensive cultivation. In case of severe pest attack the best option is to empty the entire bed and lay out a fresh bed in a different location. With this method the cost of production of azolla is less than Rs 0.65 per kilogram, which is equivalent to US$0.015 (see Table 2). 

Conclusion

Azolla can be used as an ideal feed for cattle, fish, pigs and poultry, and also is of value as a bio-fertilizer for wetland paddy. It is popular and cultivated widely in other countries like China, Vietnam, and the Philippines, but has yet to be taken up in India, in a big way. Dairy farmers in South Kerala and Kanyakumari have started to take up the low cost production technology and we hope that the azolla technology will be taken up more widely by dairy farmers, in particular those who have too little land for fodder production.

P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha and S. Rajamony. Natural Resources Development Project, Vivekananda Kendra, Kanyakumari 629 702, India. Email: vknardep@md5.vsnl.net.in 
This article is a summary of the article “AZOLLA – A sustainable feed substitute for livestock” by P. Kamalasanana Pillai, S. Premalatha, S. Rajamony. The full article was published in LEISA India, Volume 4 number 1, March 2002. It is available on the website www.leisa.info.

Trying it out 

After reading the article on azolla in the March 2002 issue of the LEISA India, the LEISA India columnist and organic farmer Mr. Narayan Reddy decided to test the production of azolla on his farm. As his grandchildren were visiting, they were set to dig the first bed of 2 x 3 x 0.15-0.2 m. To simplify the construction, Mr. Reddy made some adaptations:

He lined the bed with a simple plastic sheet, fixed the sheet with the dug out soil together with some concrete along the edges, taking care that the plastic above the water was well covered – as otherwise the sun will rapidly deteriorate the plastic. After fixing the plastic, about 2 - 3 cm of stone free soil was carefully put back in the bottom of the bed which was filled with water. The water depth is important;

too little water will allow the azolla roots to grow into the mud, making it difficult to harvest. Too much water will reduce the production as the roots do not reach close enough to the nutrients at the bottom. After filling the bed, Mr. Reddy went off to the closest university to ask for some azolla plants and put them in the water. He added 0.5 - 1 kg of neem cake to prevent possible pest problems and every three weeks he adds slurry of cow dung and water (10 kg fresh cow dung). 

One and a half years later Mr. Reddy is enthusiastic about azolla. He feeds it to his cows and chickens and after getting used to the azolla (in the beginning he mixed the azolla with concentrate) the animals love it. He has had to fence the bed to keep them out. He also uses the azolla for salads, after washing it in fresh water and removing the root. 

He empties and cleans the bed once every half year and starts it up again with some plants, neem cake and cow dung. When the temperatures soar in the summer, the bed is covered with a roof of loose palm leaves to give some shade and reduce light and temperature. However, the use of a simple plastic sheet for lining makes the bed very vulnerable – it can easily be damaged during harvesting or cleaning and Mr. Reddy therefore makes sure that he carries out these tasks himself. 

With this simple system, the only costs are for the plastic sheet and for 2 kg of neem cake per year – plus his own labour.

Anita Ingeval


Sumber :  http://www.acres-wild.com/The%20Farm.shtml

Azolla di Vietnam dari Penelitian sampai menjadi Komoditi Pakan

Azolla di Vietnam

dari Penelitian sampai menjadi Komoditi Pakan Ternak yang diperdagangkan











Pengelolaan Tanaman Padi (dengan Azolla)

Pengelolaan Tanaman Padi (dengan Azolla)

Oleh : Dr. Syahrir Immanudin, Ph.d 


Pengelolaan Nitrogen (N)

Peran N dalam Tanaman
Nitrogen adalah hara utama tanaman, merupakan komponen dari asam amino, asam nukleid, nudeotides, klorofil, enzim, dan hormon. N mendorong per tumbuhan tanaman yang cepat dan memperbaiki tingkat hasil dan kualitas gabah melalui peningkatan jumlah anakan, pengembangan luas daun, pembentukan gabah, pengisian gabah, dan sintesis protein. N sangat mobil di dalam tanaman dan tanah.

Aplikasi Pupuk N pada Padi
N merupakan elemen pembatas pada hampir semua jenis tanah. Oleh karenanya, pemberian pupuk N yang tepat sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, khususnya dalam sistem pertanian intensif. Kekurangan/atau pengelolaan N yang tidak sesuai akan berakibat buruk pada tanaman dan lingkungan. Strategi pengelolaan N yang optimal ditujukan pada keserasian pemberian pupuk N dengan kebutuhan aktual tanaman, sehingga serapan tanaman terhadap N maksimal dan mengurangi kehilangan Nke udara.

Pengelolaan N

Gejala kekurangan N.
Tanaman tumbuh kerdil, daun menguning dan jumlah anakan sedikit; hasil rendah karena jumlah malai per unit area dan jumlah gabah per malai lebih sedikit. Terjadinya kekurangan N. Hampir semua jenis tanah kekurangan N; tanah masam dengan tekstur kasar (coarse) dan kandungan bahan organik rendah (kurang dari 0,5 % organik C); tanah masam, salin, drainase buruk, dan tanah kahat P dengan kapasitas mineralisasi N dan fiksasi biologis N rendah; kalkareous dan tanah salin dengan kadar bahan organik rendah serta berpotensi tinggi untuk terjadinya penguapan amonia.
Dosis aplikasi N. 
Pupuk anorganik merupakan sumber yang biasa digunakan mensuplai N, dan lebih menguntungkan petani dibandingkan menggunakan pupuk N organik. Sumber pupuk organik N tersedia di lahan pertanian seperti pupuk kandang dan kompos bisa efektif dan menarik secara finansial guna memenuhi kebutuhan padi akan N. Berikan pupuk N anorganik 40-50 kg/ha untuk setiap kenaikan satu ton hasil dari tanpa pemberian N. Pada level hara optimum, tanaman padi (jerami + biji) menyerap sekitar 16 kg N per ton hasil gabah ( 10 kg N dalam gabah + 6 kg N dalam jerami).
Waktu pemberian N.
Warna daun dan penampilan tanaman menunjukkan status N dan membantu menentukan kebutuhan akan pemupukan N. Lihat; i) Pengelolaan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD=leaf color chart=LCC), dan ii) Split aplikasi N berdasarkan fase pertumbuhan dan BWD.
Sumber N
Amonium sulfat (21 % N, 24 % S)
Urea (46 % N)
Diamonium fosfat atau DAP (18 % N; 44-46 % P2O5)
Aplikasi Terpisah
Efisiensi pemupukan N dapat ditingkatkan dengan memonitor warna daun pada selang waktu 7-10 hari dengan BWD dan N diberikan sesuai kebutuhan tanaman (lihat BWD). Alternatif aplikasi pemupukan N dengan pendekatan waktu pemberian disajikan berikut ini untuk kasus di mana petani tidak mungkin melakukan monitoring sawahnya dalam interval 7-10 hari.

Pola Pendekatan Aplikasi N Terpisah
Pola pendekatan terpisah memberikan anjuran total kebutuhan pupuk N (kg/ha) dan rencana pemecahan dan waktu aplikasi sesuai dengan tahapan pertumbuhan tanaman, varietas yang digunakan dan metode penumbuhan tanaman. Bagan Warna Daun (BWD) digunakan untuk pemupukan susulan tersendiri. Perkirakan kebutuhan total pupuk N dan buat pola pemecahan aplikasinya. Gunakan BWD pada tahap pertumbuhan tanaman kritis untuk menyesuaikan dosis N yang ditentukan sebelumnya.

Memperkirakan Kebutuhan Total Pupuk N
Buat plot pemupukan (F) di lahan petani (lihat Petakan plot omisi). Bandingkan hasil dari plot -F yang mewakili hasil dengan pembatas N dengan target hasil di lokasi tersebut, berdasarkan pengetahuan yang dimiliki untuk hasil yang dapat dicapai dengan antisipasi pengelolaan tanaman dan pemupukan. Beda antara hasil target dan hasil –N menunjukkan antisipasi tanggap tanaman padi terhadap pemupukan N. Tetapkan kebutuhan total pupuk N berdasarkan keperluan 40-50 kg N/ha yang merupakan antisipasi tanggap tanaman terhadap N. Prinsip umum respon 40 kg N/ton N sudah memadai pada musim dengan hasil tinggi dan 50 kg N/ton respon memadai pada musim dengan hasil rendah. Kebutuhan N tinggi 60 kg N/ton dijumpai pada kondisi pengelolaan N sub-optimal atau bila target hasil mendekati potensi hasil pada tanggap N rendah (<2 t/ha).

Penggunaan BWD
Gunakan nilai BWD kritis untuk menyesuaikan dosis N terpisah berdasarkan kebutuhan dan status N tanaman. Sebagai contoh, bila 30±10 kg N/ha dianjurkan untuk fase pertumbuhan tertentu,
Berikan 40 kg N/ha, bila warna daun di bawah nilai kritis
Aplikasi pupuk N (urea) selama pertumbuhan tanaman. 
Tanaman kahat N dibandingkan dengan tanaman cukup N 
Plot tanpa pupuk untuk memperkirakan suplai alami N tanah.
Berikan dosis standar 30 kg N/ha bila warna daun sesuai nilai kritis
Tangguhkan pemberian pupuk dan berikan dosis kurang dari 20 kg N/ha bila warna daun di atas nilai kritis.

Merancang pola pemberian terpisah
Gunakan tabel di atas untuk membuat pola pemecahan pemberian pupuk N pada setiap domain pertumbuhan. Penyesuaian pada kondisi spesifik diperlukan dengan partisipasi petani setempat.

Azolla
Azolla adalah sejenis pakis (fern) air tawar yang hidup di kolam, danau, rawa dan sungai kecil baik di kondisi tropis maupun sub tropis. Untuk berabad lamanya, azolla telah digunakan sebagai pupuk hijau di Cina Selatan dan Vietnam Utara.

Penggunaan Azolla pada Padi
Azolla berasosiasi dengan ganggang biru hijau algae anabaena dapat memfiksasi N dari udara ke dalam bentuk amonia yang dapat diserap tanaman padi saat diinkorporasikan ke dalam tanah. Azolla mengandung 2-5 % N, 3-6 % K (bahan kering).

Pengelolaan Azolla pada Padi
Perbanyakan
Azolla memperbanyak diri secara vegetatif (tidak menghasilkan biji). Dengan demikian, inokulum azolla dipertahankan hidupnya sepanjang tahun dengan menumbuhkannya dalam kolam kecil atau parit berisi air (untuk luas 4-5 m2 dengan dalam 0,5-1,0 m, dibutuhkan 250-500 gm (berat segar) inokulum)
Azolla tumbuh baik pada suhu rata-rata harian 25º C, namun mati bila suhu lebih tinggi. Dapat digunakan, baik pada padi musim hujan maupun kemarau.
Azolla dapat digunakan dengan 2 cara: 1) sebagai pupuk hijau, dibenamkan ke dalam tanam sebelum tanam pindah dan 2) sebagai intercrop, dibenamkan setelah tanam pindah.
Pada kedua cara tersebut, diberikan sekitar 500 kg berat segar/ha pada air yang tergenang di sawah.
Pembenaman azolla sebelum transplanting
Tumbuhkan azolla sekitar satu bulan sebelum pembenaman saat tanam pindah. Pupuk azolla dengan 2,2 kg P/ha setiap 5 hari, 4 kg K/ha setiap 10 hari, dan/atau 500-1000 kg/ha pupuk kandang setiap 5-10 hari. Bila pupuk kimia tidak tersedia, dapat digantikan dengan abu.
Tumpangsari azolla
Berikan azolla ke dalam pertanaman padi dalam keadaan tergenang. Tumpangsari azolla biasanya tidak dipupuk (namun bila tersedia super fosfat (TSP) pemberian 4-5 kg P/ha dapat dianjurkan).
Pada kedua sistem, azolla dapat dibenamkan beberapa kali selama siklus pertumbuhan padi.
Kecepatan pertumbuhan
16-20 hari setelah inokulasi, pertanaman akan tertutup oleh sekitar 20 ton azolla, yang selanjutnya dibenamkan ke dalam tanah. Biasanya sebagian azolla dibiarkan tumbuh setelah pembenaman pertama. Kadangkala 3-4 pertanaman azolla diproduksi dan dibenamkan pada setiap kali bertanam padi.
Teknologi ini mampu menghasilkan sekitar 40 t azolla segar/ha setara dengan sekitar 60 kg N/ha. Untuk itu diperlukan aplikasi 0,5 t inokulum azolla segar, 2-3 t pupuk kandang, 20-30 kg P, dan
20 kg K/ha.
Keterbatasan

Azolla tidak dapat bertahan pada kondisi kering – sehingga selalu diperlukan genangan air.
Karena azolla berkembang secara vegetatif, inokulumnya harus selalu dipertahankan dalam persemaian sepanjang tahun dan diperbanyak untuk disebarkan sebelum diinokulasikan ke lapang.
Suhu tinggi mengakibatkan meningkatnya serangan hama dan penyakit pada azolla. Cuaca dingin merupakan kunci sukses pemanfaatan azolla.
Diantara unsur hara, P yang terpenting untuk azolla. Karena azolla mengapung, ia tidak dapat menyerap P dari tanah, oleh karenanya pertumbuhannya terkendala oleh kekurangan P bila unsur ini tidak diberikan ke dalam genangan air.
Penggunaan azolla secara ekonomi amat penting. Teknologinya memerlukan tenaga kerja intensif. Petani seringkali tidak memperoleh keuntungan ekonomi dari penggunaan azolla dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia karena adanya tambahan biaya tenaga kerja, kesempatan lahan memperoleh irigasi, binit/inokulum, fosfat, dan pestisida menjadikan penggunaan azolla tidak ekonomis
Sesbania
Sesbania sebangsa leguminosa yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau untuk menambah N dan bahan organik ke dalam tanah. Spesies sesbania yang banyak digunakan di Asia adalah Sesbania cannabina (d/h acculeata). S. restrata dan S. rostrata (menghasilkan nodul fiksasi N pada akarnya). S. rostrata (memproduksi bintil fiksasi N pada akar dan batang) banyak ditemukan di Afrika.

Penggunaan Sesbania pada Padi
Bahan organik dan N yang dihasilkan Sesbania membantu memperbaiki tanah dan pertumbuhan tanaman. Pada keadaan tertentu, menanam pupuk hijau lebih murah dan pemulihan sumber N, khususnya bila keadaan infrastruktur dan fasilitas transportasi tidak memadai sehingga pupuk menjadi mahal dan tidak dapat tersedia tepat waktu.

Pengelolaan Sesbania pada padi
Sesbania dapat menghasilkan 80-100 kg N/ha (setara dengan 4-5 t/ha bahan kering Sesbania) dalam waktu sekitar 40 hari dalam musim hari panjang dan dalam 50-60 hari musim hari pendek.

Waktu tanam: Ditanam sebelum atau sesudah padi ketika lahan bera. Sesbania sangat sensisitif terhadap fotoperiod, berbunga dalam sekitar 35 hari selama musim hari panjang dan dalam 125 hari selama musim hari pendek.
Suhu. Sesbania tumbuh bagus pada suhu di atas 25ºC.
Pengolahan lahan. Walaupun Sesbania dapat tumbuh dengan pengolahan tanah minimum,pengolahan lahan sempurna (sekali bajak dengan 2-3 kali garu) akan memberikan pertumbuhanterbaik.
Kebutuhan benih. Bila populasi gulma rendah, benih sesbania dapat disebar sebanyak 30 kg/ha sebelum hujan turun. Tanah diolah dan diairi. Dosis benih dapat dikurangi sampai 16 kg/ha. Berat benih biasanya 14-18 g/100 biji. Untuk meningkatkan perkecambahan (sampai 65 %) dan pertunasan, biji dapat direndam dalam air dengan suhu 100ºC selama 3 detik. Sebagian petani melukai (scarify) benih (sedikit mengupas kulit biji) dengan menumbuk benih dalam karung. 
Irigasi: Tanaman tidak memerlukan genangan air, namun irigasi dapat diberikan sewaktu-waktu diperlukan (bila tanah belah/retak dan daun sesbania tampak layu)
Pembenaman. Setelah 45-60 hari, dan sebelum batang mengayu, benamkan sesbania dengan cara antara lain: cacah tanaman agar mudah dibenam melalui pembajakan. Cara yang lebih cepat dan efisien adalah merebahkan tanaman sesbania menggunakan batang kayu yang ditarik ternak, kemudia bajak searah tanaman yang direbahkan tersebut. Hydrotiller efektif digunakan membenamkan biomass sesabania pada lahan berlumpur dalam. Cagewheel berkecepatan tinggi dengan gigi triangular pendek memotong-motong biomass menjadi serpihan sebelum dibenamkan ke lahan berlumpur. Bila memakai hydrotiller lahan diairi terlebih dahulu paling tidak 48 jam sebelum pembenaman biomas. Untuk produksi skala besar, penggunaan traktor 4-roda dengan rototiller paling efisien.
Produksi benih. Benih sesbania diproduksi pada saat panjang hari kurang dari 11 jam. Selama periode tersebut, sesbania berbunga dalam 30-35 hari dan menghasilkan biji 30 hari kemudian. Biji yang dipanen selama musim hujan seringkali kualitasnya rendah karena terserang hama penggerek. Benih dapat juga diproduksi pada lahan marginal, parit atau galengan sawah untuk mengurangi biaya.
Keterbatasan
Kendala sesbania sebagai pupuk hijau :
Produksi benih rendah
Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja (mis. untuk membajak dan membenamkan biomasa ke dalam tanah)
Sesbania sensitif terhadap fotoperiod
Masalah hama
Kompetisi dengan tanaman lain akan lahan dan air.

FOSFAT 

Peran P dalam Tanaman
P adalah hara utama tanaman yang penting untuk perkembangan
akar, anakan, berbunga awal, dan pematangan. P mobil dalam tanaman, tetapi tidak mobil dalam tanah.

Pengelolaan P
Gejala kahat P. Tanaman hijau gelap dan kerdil dengan matang lambat (tidak terjadi pembungaan pada kahat P yang parah); gabah hampa tinggi.
Terjadinya kahat P. P seringkali kurang pada tanah berpasir
dengan kandungan bahan organik rendah; tanah kalkareous/ salin/alkalin; degradasi tanah sawah; tanah abu vulkan atau tanah kering masam dengan kapasitas fiksasi P tinggi; tanah gambut; dan tanah sulfat masam dengan kandungan besi dan aluminium tinggi.
Waktu aplikasi P. Benam dan aduk semua pupuk P ke dalam tanah sebelum pelumpuran terakhir dan tanam pindah atau sebar seluruh P pada 10-15 hari setelah benih disebar langsung.
KALIUM (K)

Peran K dalam Tanaman
Kalium adalah hara tanaman utama yang dibutuhkan untuk meningkatkan perkembangan akar dan vigor tanaman, ketahanan terhadap kerebahan dan hama/penyakit. K mobil dalam tanaman dan sangat mobil di dalam tanah.

Aplikasi K pada Padi
Kalium seringkali merupakan unsur pembatas untuk memperoleh hasil padi yang tinggi setelah nitrogen (N). Pupuk K perlu diberikan dalam jumlah mencukupi pada hampir semua lahan sawah irigasi. Hara lainnya perlu diberikan dalam jumlah seimbang untuk menjamin respon yang baik dari tanaman terhadap aplikasi K dan pencapaian pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.

Gejala kahat K. Tanaman hijau gelap dan kerdil dengan margin daun cokelat kekuningan dan / atau dengan margin dan ujung daun tua nekrotik, gejala kahat K pada daun dapat menyerupai gejala penyakit tungro, namun tungro biasanya terjadi pada spot-spot yang tersebar (tidak menyeluruh) dan lebih nyata warna daun kuning dan oranye dan tanaman kerdil; gejala pada daun nampak pada fase pertumbuhan lanjut; akar tidak sehat dan menghitam; kerebahan dan kehampaan gabah tinggi; bobot gabah lebih ringan.
Terjadinya kahat K. Kahat K terjadi di daerah pertanaman yang intensif yang mendapat pemupukan N dan P tinggi. K seringkali kurang pada tanah berpasir atau bertekstur kasar; tanah kering masam; lahan sawah terdegradasi; tanah sulfat masam; dan tanah organik. Catatan: penambahan unsur K dari air irigasi cukup nyata pada daerah tertentu ( contoh: di Vietnam).
Dosis aplikasi K. Pada hara tanaman optimum, tanaman padi (jerami+gabah) mengambil sekitar 19 kg K2O (16 K) untuk setiap ton hasil gabah (2,2 kg K2O pada gabah dan 16,8 kg K2O pada jerami). Rekomendasi pemupukan K berdasarkan target hasil dan status K tanah (Tabel..) seperti ditetapkan oleh hasil gabah dari K-petak omisi (lihat teknik Petak Omisi Hara).
Waktu aplikasi K. Bila dosis yang digunakan rendah, benam dan aduk pupuk K ke dalam tanah saat pelumpuran terakhir sebelum tanam pindah atau sebar seluruh pupuk K pada 10-15 hari setelah benih disebar langsung. Pada dosis > 30 K2O/ha, berikan 50% sebagai pupuk dasar dan 50% pada awal pembentukan malai. Pecah pemberian K paling tidak dua kali pada tanah berpasir dengan derajat pencucian tinggi. Pemberian K pada fase pembungaan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit dan kerebahan dengan kanopi rapat dan target hasil tinggi, namun belum tentu meningkatkan hasil.
Sumber Kalium
Yang sudah banyak dikenal adalah kalium klorida (MOP-muriate of potash) yang mengandung 50% K atau 60% K2O dalam bentuk KCl (30 kg K2O setara dengan 50 kg MOP atau KCl). Jerami kaya akan
K (14,0 kg K atau 16,8 kg K2O/ton jerami). Catatan: 1 kg K2O = 0,83 kg K dan 1 kg K = 12 kg K2O. Rekomendasi pemupukan K berdasarkan target hasil dan pembatas hasil K pada K-petak omisi (tanpa K) pada level pengembalian jerami medium (2-3 t/ha).

SULFAT (S)

Peran S dalam Tanaman
Belerang atau Sulfur (S) adalah hara utama penting yang diperlukan untuk produksi khlorofil. S diperlukan untuk memproduksi asam amino (cystein, methionin, dan cystin) dalam tanaman yang berkaitan dengan nutrisi manusia. S sangat mobil dalam tanaman (walaupun lebih kurang mobil dibandingkan dengan N), namun hanya sebagian mobil dalam tanah. 

Aplikasi S pada padi
Gejala kahat S. Tanaman hijau pucat; daun muda menguning pucat (kontras dengan daun tua yang menguning cepat dan mati pada tanaman kahat N). Analisis tanah dan/tanaman diperlukan untukmengkonfirmasikan gejala kahat S.
Terjadinya kahat S. Kahat S sesunggunhnya jarang dijumpai. S mungkin diperlukan pada tanah berpasir yang mudah tercuci; tanah dengan kandungan bahan organik rendah; dan tanah dengan pelapukan tinggi kaya akan besi oksida.
Dosis aplikasi S. Berikan 10 kg S/ha pada kahat S yang parah. Tanaman memerlukan sekitar 2 kg S/ha (jerami+gabah) untuk setiap ton hasil gabah.
Waktu pemberian S. Bila dibutuhkan, berikan semua jenis pupuk S sesaat sebelum pelumpuran bersama dengan pupuk P dan K. Pengaruh pemberian S bertahan sampai 2 musim tanam.
Sumber Pupuk S
Sumber S yang biasa digunakan adalah amonium sulfat (24% S), single super fosfat (12% S), dan gypsum (17% S).

ZINC (Zn)

Peran Zn dalam Tanaman
Seng atau Zinc (Zn) adalah hara utama penting yang dibutuhkan tanaman untuk beberapa proses biokimia dalam tanaman padi, termasuk produksi klorofil dan integritas membran. Oleh karenanya kahat Zn mempengaruhi warna dan turgor tanaman. Zn hanya sedikit mobil dalam tanaman dan sangat mobil di dalam tanah.

Aplikasi Zn pada Padi
Zn membatasi pertumbuhan tanaman, suplai Zn tanah rendah atau
kondisi tanah buruk (misalnya, selalu kebanjiran) menghalangi serapan Zn oleh tanaman. Pada kasus tertentu, Zn perlu diberikan sesuai kebutuhan. Hara lainnya perlu diberikan dalam jumlah seimbang untuk menjamin respon tanaman yang baik terhadap pupuk Zn dan pencapaian pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.

Pengelolaan Zn

Gejala kahat Zn. Tanaman kerdil dan bercak coklat berdebu
pada bagian atas daun; spot-spot tanaman yang tumbuh jelek; gejala terlihat 2-4 minggu setelah tanam pindah; kehampaan gabah tinggi; pematangan terlambat dan hasil rendah; gejala kahat Zn menyerupai kahat S dan Fe pada tanah alkalin dan keracunan Fe tanah organik berdrainase buruk.
Terjadinya kahat Zn. Kahat Zn tidak sering dijumpai, namun
dapat terjadi pada tanah kalkareous dan netral; pertanaman intensif; tanah sawah yang selalu kebanjiran atau berdrainase buruk; tanah salin dan sodik; tanah gambut, tanah dengan P dan silikat (Si) tersedia tinggi; tanah berpasir; tanah dengan pelapukan tinggi, asam, dan bertekstur kasar; tanah yang terbentuk dari serpentin dan laterik; dan tercuci, tanah sulfat masam tua dengan konsentarsi K, Mg, dan Ca rendah. 
Aplikasi Zn. Bila kahat Zn nampak di lapang, berikan 10-25 kg ZnSO4.H2O atau 20-40 ZnSO4.7H2O per ha pada permukaan tanah, atau celupkan akar bibit padi dalam 2-4% larutan ZnO sebelum transplanting (20-40 g ZnO/lt air). Tanaman dapat pulih dari kahat Zn bila sawah didrainasi – kondisi kering meningkatkan ketersediaan Zn. Tanaman hanya memerlukan sekitar 0,05 kg Zn/ha (jerami+gabah) per ton hasil gabah, namun lebih banyak pupuk Zn harus diberikan karena begitu diberikan Zn tidak selalu tersedia bagi tanaman. 
Waktu aplikasi Zn. Berikan pupuk Zn pada permukaan tanah setelah pelumpuran terakhir dan perataan lahan atau berikan Zn pada bedeng persemaian 7-8 hari sebelum bibit dicabut. Pengaruh pemberian Zn berlaku sampai 2-5 musim tanam pada semua jenis tanah kecuali tanah alkalin.Pada tanah alkalin, Zn perlu diberikan pada setiap musim tanam.
Catatan: Aerasi tanah –membiarkan mengering– dapat mengurangi kahat Zn.
Sumber Zn
Sumber Zn yang biasa digunakan adalah zinc sulfate terlarut (23-36% Zn), zinc klorida terlarut (48-50% Zn), dan zinc oksida tidak larut (60-80% Zn)

FERRUM ( FE )

Peran Fe dalam Tanaman
Fe adalah hara esensial yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung transportasi elektron dalam proses fotosintesis. Fe merupakan akseptor elektron penting dalam reaksi redoks dan aktivator untuk beberapa enzim. Kekurangan Fe akan menghambat absorpsi K. Fe tidak mobil, baik dalam tanaman maupun tanah.

Aplikasi Fe pada Tanaman Padi
Setelah kahat unsur utama N, P, K, S, dan Zn, kahat Fe merupakan urutan penting berikutnya yang membatasi hasil tanaman padi. Aplikasinya harus berimbang agar terjamin pertumbuhan tanaman
yang sehat dan produktif. Pada petak yang kahat Zn bahkan tanaman bisa tidak tumbuh.

Pengelolaan Fe
Gejala kahat Fe. Antartulang daun menguning, daun yang muncul mengalami klorosis. Seluruh daun dan bagian tanaman menguning (khlorotik). Produksi bahan kering dan hasil menurun.
Terjadinya kahat Fe. Kahat Fe tidak dijumpai pada sawah tergenang yang sedikit asam, namun banyak dijumpai pada sawah dengan tekstur tanah berpasir, kalkareous dan bereaksi alkalin. Kahat Fe sering dijumpai pada lahan kering dengan tanah bereaksi netral, kalkareous dan alkalin (basa).
Dosis aplikasi. Kahat Fe sangat sulit diatasi dan mahal untuk dikoreksi. Pemberian pada tanah memerlukan 100-300 kg/ha fero sulfat (sulfat besi). Pemberian melalui daun, 2-3 % larutan fero sulfat atau 100 l/ha Fe chelate 2-3 dalam selang waktu 2 minggu dimulai pada fase anakan. Tanaman memerlukan sekitar 0,5 kg/ha Fe (jerami dan biji/gabah) untuk setiap ton hasil gabah, namun setelah aplikasi Fe tidak tersedia bebas bagi tanaman.
Waktu aplikasi. Berikan solid fero sulfat (FeSO4) di sebelah barisan tanaman padi dengan dosis 100 kg/ha. Dua sampai tiga aplikasi 2-3 % larutan FeSO4 melalui daun atau chelate besi pada selang waktu 2 minggu pada fase anakan.
Sumber Fe
Pupuk Fe yang biasa digunakan adalah larutan fero sulfat (20-30 % Fe), fero amonium sulfat (14 % Fe), dan chelate besi (5-14 %)

Dr.Syahrir Immanudin , ph.D

Azolla di Vietnam

Azolla di Vietnam






Azolla microphylla Sumber pakan hijauan yang potensial dan murah untuk Ternak

Azolla microphylla

Sumber pakan hijauan yang potensial dan murah untuk Ternak